FORGOTTEN LOVE part 1
author : Kim Dae-Ah
sebelumnya maaf kalo ceritanya gaje. ini FF pertana aku.
cerita ini hanya fiksi belaka, jika BANYAK kesamaan nama, tempat, ataupun karakter tokoh, tidak ada unsur kesengajaan.
say no to plagiatism!
warning typo bertebaran..
-happy reading-
jika aku tak dapat menggapaimu, maka biarkan aku pergi bersama anganku....
-kim sera-
bahkan jika kau tak mendapatkan bintangmu, cobalah untuk menggapai bintang yang lain, meski bintang itu tak seindah bintangmu
-lee donghae-
Sera’s POV
Berjam-jam
sudah aku menunggu. Tapi orang yang kutunggu tak kunjung terlihat. Appa, kau
yang menyuruhku pulang lebih awal. Tapi kenapa justru kau yang terlambat.
Kutekan nomor ayahku di ponsel. Tuuut...tuut.... tak ada
jawaban.
“Aissh... appa. Apa yang
mmbuatmu terlambat. Ini bukan kebiasaanmu!”
Tak lama kemudian ponselku
berdering.
Uri
saranghaneun Appa
“Appa? Kenapa kau lama
sekali. Aku hampir lumutan menunggumu disini!”
“Yoboseyo... apakah anda
keluarga tuan Kim Byungwon?” suara diseberang sana jelas bukan suara appa.
“Ne... saya anaknya.”
“Ah, agashi, kami dari
kepolisian ingin mengabarkan kepada anda bahwa ayah anda mengalami kecelakaan
serius, sekarang ayah anda berada di rumah sakit. Nanti alamatnya akan saya
kirimkan melalui pesan singkat.” Tubuhku lemas mendengar perkataan orang itu.
Appa? Kecelakaan? Wae?
Setelah mendapat pesan
singkat berisi alamat rumah sakit aku bergegas menuju alamat yang tertera.
Sesampainya di rumah sakit aku melihat beberapa orang polisi mondar-mandir.
“Ajusshi, apa yang terjadi
pada appa?” tanyaku panik.
“Appa-mu mengalami
kecelakaan. Dia mengemudi dalam keadaan mabuk dan menabrak sepeda motor dan
menabrak pembatas jalan.”
Appa mengemudi dalam keadaan
mabuk? Benar-benar bukan kebiasaannya.
Tak lama seorang dokter
keluar dari ruang gawat darurat.
“Keluarga Kim Bungwon-ssi?”
“Ne, saya putrinya.”
Dokter itu menghela napasnya
sebelum memulai kalimatnya.
“Agashi, kami telah berusaha
semampu kami. Namun nyawanya tak tertolong.”
“Ne? Uri aboji?”
“Cwesonghamnida, kondisi jantungnya
sangat lemah. Serangan jantung yang ia terima membuatnya tak mampu bertahan.
Dari riwayat penyakitnya kami menemukan bahwa ayah anda mengidap kebocoran
jantung setahun belakangan.” Jelas dokter
“Ne? Tapi appa tak pernah
mengatakan apapun padaku?”
“Sekali lagi kami minta maaf
Agashi.”
Kurasakan kakiku tak mampu
lagi menopang tubuhku, aku limbung dan yang kulihat hanya gelap.
*****
Author’s POV
Sudah berkali-kali Sera
membolak-balik koran itu. Tepatnya di bagian lowongan kerja. Sebuah spidol di tangan
kirinya berkali-kali membulati kolom-kolom lowongan pekerjaan. Sera mengacak
rambutnya.
“Aiissh... kenapa cari kerja
itu susah? Apalagi hanya dengan modal ijazah sekolah menengah. Aaarr.......!!!”
Tingtung.... bel pintu
rumahnya berbunyi.
“Siapa sih yang datang
malam-malam begini?”
Sera berjalan menuju pintu
dengan malas.
“Nuguseyo?” teriaknya
sebelum membukakan pintu.
“Annyeonghaseyo agashi. Apa
benar ini rumah Kim Sera putri dari Kim Byungwon?”
Namja itu mengenaka setelan
jas dan memegang secarik kertas ditangannya.
“Ne? Nuguseyo?”
“Ah.. akhirnya. Agashi, bisa
ikut saya sebentar, tuan Lee sudah seharian mencari anda?”
“Tuan Lee?”
“Ne, Agashi. Sebaiknya anda
ikut saya agar tidak penasaran.”
Sera menurut saja dan
mengikuti namja itu sampai di sebuah sedan hitam yang terparkir cukup jauh dari
rumah kontrakannya.
Seorang lelaki berumur
sekitar 50an keluar dari mobil itu.
“Sera-ya... oremanida... (lama
tak bertemu) Aigoo... kau sudah besar rupanya!”
“Ah... ne Ajusshi. Tapi...
Ajushi nuguseyo?”
“Aigoo... kau tak ingat?”
“ngg.....” Sera menggigit
bibirnya, berusaha mengingat wajah Ajushi yang ada didepannya.
“Ah... Lee Kyungjae
Ajusshi..” Akhirnya Sera ingat
“Ne.. ne... apakah aku
banyak berubah sampai kau sulit mengenaliku?”
“Tidak juga Ajusshi...
sepertinya memang daya ingatku yang buruk.”
Saat itu Sera dapat tertawa
dan melupakan bebannya sejenak.
“lebih baik kita lanjutkan
ngobrolnya di tempat makan, masih banyak yang ingin aku bicarakan. Dan aku
mulai kelaparan. Bagaimana?”
“Baiklah.”
Sera dan Lee Ajushi memasuki
sebuah restoran jepang.
“kau masih suka sushi ‘kan?”
“Ne Ajushi..”
“yasudah ayo kita masuk.”
Keluarga Sera dan keluarga Lee ajusshi memang
sangat dekat. Sampai-sampai ketika eomma Sera meninggal Lee Ajhuma mampu
menenangkan Sera seperti eommanya sendiri.
“Sera-ya... kudengar Appamu
meninggal dunia.” Wajah Lee Ajushi berubah serius.
“Ah... Ne.. ajushi.. dokter
bilang jantungnya terlalu lemah untuk bertahan. Aku bahkan tak tahu kalau Appa
punya penyakit jantung.” Sera tersenyum miris mengingat Appanya.
“Maafkan ajusshi tak bisa
datang ke upacara pemakamannya. Sebulan yang lalu ajusshi sedang ada pekerjaan
di Jepang. Dan baru mendapat kabar seminbggu yang lalu. Aku teringat padamu.
Aku mencarimu ke rumah lamamu tapi rumah itu sudah milik orang lain. Kalau Ajusshi
boleh tau, apa yang terjadi pada keluargamu?”
Sera diam sejenak.
“kalau kau tak mau...” belum
selesai kalimat Lee Ajushi Sera membuka mulut.
“Aniya Ajusshi. Sepertiny
hanya padamu aku bisa menceritakan segalanya...
“Perusahaan Appa bangkrut.
Sejak saat itu Appa bekerja disebuah perusahaan mobil dan mendapat posisi yang
lumayan.
Malam itu, menurut teman
kerjanya appa mendapat surat PHK, appa minum beberapa botol soju untuk
menghilangkan stress, Appa mabuk dan pergi mengemudi mobil sendirian. Appa
menabrak seorang pengendara motor karena rem mobilnya tak berfungsi. Appa
meninggal karena serangan jantung. Seminggu setelah kepergian Appa rumah kami
disita karena Appa punya hutang pada lintah darat...” Sera mulai terisak.
“Kim Byungwong. Kenapa kau
tak menceritakan segalanya padaku” ucap Lee ajusshi setengah berbisik.
“Appa tak mau merepotkan
siapapun Ajusshi.”
“bukan begitu Sera-ya... Aku
berhutang budi pada Appamu. Dulu kau dan Appa mu menyelamatkan aku dan
keluargaku.”
“aku dan appa tak melakukan
apa-apa Ajusshi...” Sera berusaha tertawa dan mengalihkan pikirannya dari
kepergian Appanya.
“Untuk itu, Sera-ya...
maukah kau tinggal dirumah Ajusshi?”
“Ajusshi... bukannya aku tak
mau tapi... aku pasti merepotkanmu.”
“Aku tak akan pernah merasa
keberatan jika kau mau. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri Sera-ya...
Ajhuma juga pasti senang kalau kau tinggal bersama kami. Kau tahu sendirikan
Ajhuma sangat ingin anak perempuan sedangkan kedua anakku itu laki-laki.”
“Tapi mungkin Donghae dan
Hyukjae keberatan kalau aku tinggal disana.”
“Tidak... kau jangan banyak
beralasan. Pokoknya malam ini kau rapikan semua barangmu. Besok aku akan
mengirim orang untuk menjemputmu.”
“baiklah Ajusshi...”
*****
Sera’s POV
Tawaran Lee ajusshi untuk
tinggal dirumahnya seperti menyelamatkanku dari jurang kehidupan. Kontrak
rumaku harusnya diperpanjang besok. tapi sekarang setidaknya aku bisa bernapas
sejenak tanpa memikirkan uang sewa.
Barang-barangku sudah
dikemas. Aku sudah berada dalam mobil. Dan sekarang aku sudah berada di depan
kediaman Lee Ajusshi.
“Agashi, kau masuk saja
barang-barangmu biar aku yang bawakan.”
“An ne... Gomabseumnida..”
Aku melangkahkan kakiku
memasuki rumah besar ini. Suara yeoja yang aku kenal mulia terdeengar dari
dalam rumah. Dan tak lama kemudian wujudnya muncul di mataku.
“Aigoo... Sera-ya kau sudah
besar. Aku sangat senang ketika suamiku bilang kau akan tinggal disini. Aku
turut berduka atas ke[pergian ayahmu.” Lee ajhuma memelukku dan aku balas
memeluknya.
“Gomawo Ajhuma sudah
mengijinkanku tinggal disini.”
“Ah... gwenchana.... mulai
sekarang jangan kau jangan panggil aku Ajhuma. Panggila saja aku Eommoni.”
“Ah.. ne.. Eommoni.” Kataku
canggung.
“Hyuk, Hae... kemarilah
lihat dongsaengmu sudah datang.” Dongsaeng? Aigoo Lee Ajhuma benar-benar
berlebihan.
Kulihat hanya ada seorang
namja yang turun dari lantai dua. Dan menurut perkiraanku di itu Lee Donghae
putra bungsu keluarga Lee.
“Sera?! Kau benar Sera?!
Aigoo... kenapa kau jadi cantik begini?” tanyanya sambil terus mencubiti
pipiku.
“Ah, ne Donghae-oppa...”
balasku sambil memegangi pipiku yang terasa lumayan sakit karena cubitannya
tadi.
Tak lama kemudian seorang
namja turun dari lantai dua.
“Hyukjae-ya... ini Sera. Kau
ingat?” tanya Lee Ajhuma pada namja itu.
“oh...” jawab namja itu
datar. Kemudian dia berlalu meninggalkan kami.
“Ayo Sera-ya Eomma antar
kamu ke kamarmu.”
Lee Ajhuma mengantarku
menaiki tangga menuju lantai dua. Ternyata kamarku bersebelahan dengan kamar
Hyukjae-oppa dan berhadapan dengan kamar Donghae-oppa. Kamarku menghadap ke
halaman belakang yang tak kalah luas dengan halaman depan yang tadi kulihat.
Rumah ini lebih mirip istana daripada rumah.
*****
Author’s POV
Tok tok...
Pintu kamar Sera diketuk.
“Masuk saja, pintunya tidak
dikunci.” Sahut Sera dari dalam kamar.
“Sera-ya... Cepat turun kita
makan malam.” Ajak Donghae pada Sera.
“Ne, Donghae-oppa aku akan
turun sebentar lagi. Kau duluan saja.”
“Arraseo.”
Sera menuruni tangga menuju
ruang makan. Disana keluarga Lee sudah duduk rapi. Sera lalu duduk disebelah
Hyukjae.
“Anak-anak, ini Kim Sera
anak teman Appa.” Lee Ajushi memperkenalkan Sera.
“Anyeonghasseyo.. Sera
imnida...” Sapa Sera ramah.
“Sera adalah anak Kim
Byungwon teman Appa dulu. Byungwon meninggal sebulan lalu karena kecelakaan
yang menybabkan dirinya terkena serangan jantung. Jadi mulai sekarang Sera akan
tinggal bersama kita.”
Mendengar nama Kim Byungwon
mata Hyukjae hampir keluar. Karena namja bernama Kim Byungwon-lah yang
menyebabkan kakinya cacat. Padahal kakinya adalah aset paling berharga untuk
seorang Dancer seperti dirinya.
“MWO? Apa Aboji bilang? Kim
Byungwon?” teriak Hyukjae dengan nafas tak beraturan.
“Hyukjae-ya... jangan
lakukan ini di sini!” Lee ajhuma berusaha menenangkan Hyukjae.
“Eomma... Eomma kan tahu Kim
Byungwon adalah orang yang membuatku seperti ini?! Kenapa Eomma mengijinkan
anak dari orang yang menghancurkan mimpiku tinggal bersama kita?!” Ucap Hyukjae
berapi-api.
Lee Ajhuma mulai terisak.
Hyukjae berdiri dan meninggalkan ruang makan. Sedangkan Sera hanya diam
mematung tak tahu harus berbuat apa.
“Mianhae Sera-ya... mungkin
mood Hyukjae sedang kurang bagus.” Lee ajhuma mendekati Sera.
“Ani, Eommoni, maksudku Lee
Ajhuma. Aku memang tak seharusnya berada disini.” Sera yang mulai terisak
berlari menuju kamarnya.
Sera memasukkan kembali
pakaiannya kedalam koper. Sera menyeret kopernya keluar kamar. Ketika dia
menutup pintu kamarnya, Hyukjae sedang berjalan menuju tangga. Tatapan mereka
bertemu. Hyukjae memandang Sera dengan malas. Sedangkan Sera menatap Hyukjae
dengan perasaan bercampur aduk. Air matanya terus bercucuran.
Sampai di lantai bawah Sera
bertemu dengan Lee Ajhuma.
“Sera-ya... Kau mau kemana?”
tanya Lee Ajhuma heran.
“Aku tak seharisnya berada
disini Ajhuma...” Suara Sera mulai terdengar serak.
“Aku pergi Ajhuma.
Terimakasih atas segalanya dan maaf aku telah merepotkanmu. Dan sampaikan pada
Hyukjae aku meminta maaf atas nama Appa, karena Appa tak mungkin meminta maaf
padanya secara langsung.”
“Sera-ya kajima...
Jaebal....” pinta Lee Ajhuma pada Sera
“Aniya Ajhuma. Aku tak mau
merepotkan keluargamu lebih banyak.”
“Biarkan dia pergi Eomma!
Aku muak melihat di ada disini!” teriak Hyukjae yang sedang menuruni tangga.
“Jaga ucapanmu Lee Hyukjae!”
teriak Lee Ajhuma.
“Aku pergi Ajhuma... dan
Hyukjae Oppa. Terimalah maafku atas nama Appa. Aku tak mau arwah Appa
terbebani.” Sera membungkuk dalam pada Lee Ajhuma kemudian pergi menyeret
kopernya menuju keluar rumah dengan perasaan tak menentu.
*****
Sera’s POV
Ćku berjalan menyusuri
trotoar tak tahu harus kemana. Aku mungkin bisa naik bis ke rumah kontrakanku
yang lama. Kurogoh tas tanganku. Aku tak dapat menemukan dompetku! Sepertinya
Dompetku tertinggal karena aku sangat terburu-buru tadi. Perkataan Hyukjae-oppa
benar-benar membuat hatiku serasa dicabik-cabik. Aku sadari kecelakaan itu
memang salah Appa. Tapi apa perlu dia mengatakannya seperti itu? Ah.. molla!!!!
Aku ingin mati saja bersamamu appa..... eomma.... aku menangis sejadi-jadinya.
Aku berusaha berdiri namun aku tak dapat menyeimbangkan tubuhku, alhasil kakiku
keseleo, engkelku yang aga cacat akan terasa sakit jika digunakan berlari dan
jika keseleo seperti ini.
Aku berusaha
berjalan-meskipun terpincang-pincang menuju halte terdekat agar aku bisa duduk
dengan nyaman setidaknya.
Duar..... suara petir menggelegar.
Hujan mulai turun, dan
semakin lama semakin deras. Aku pakasakan diriku untuk brlari meskipun kakuki
benar-benar sakit.
*****
Hyukjae’s POV
Pikiranku masih
berputar-putar pada Yeoja itu. Kenapa Appa dan Eomma mengijinkan anak itu masuk
ke rumah kami? Seberapa penting namja bernama Kim Byungwon itu?
“Hyung, appa memanggilmu ke
ruang kerjanya.” Suara Donghae memecah lamunanku.
“untuk apa?”
Donghae hanya menatapku
tajam.
Aku menuju ruang kerja Appa.
Appa sudah duduk dengan ekspresi seperti siap menerkamku saat aku memasuki
ruangan kerjanya.
“Appa... donghae bilangkau
memanggilku. Wae?”
“Wae? Dengan entengnya kau
bertanya mengapa?”
“Aku tak mengerti apa yang
Appa bicarakan. Jangan berbelit-belit katakan saja apa yang ingin kau katakan.”
“YA!!! Kau benar-benar tak
tahu diri Lee Hyukjae. Kau bilang apa pada Sera tadi? Meghancurkan mimpimu?!
Kau tak ingat apa yang telah mereka lakukan pada keluarga kita?!”
“tidak...” jawabku enteng.
Appa terlihat semakin berapi-api. Namun aku tak peduli.
“sudahlah Appa... aku
lelah!!” aku beranjak dari posisiku.
“Lee Hyukjae, jika kau tak
menemukan Sera dalam waktu 24 jam, aku tak akan segan-segan menendangmu keluar
dari rumah ini!” teriak appa padaku.
Aku lebih memilih tak
menghiraukan perkataan Appa dan melangkah keluar. Aku benar-benar tak habis
pikir. Bagaimana ada seorang ayah yang lebih membela orang asing daripada
anaknya sendiri.
Saat aku hendak menaiki
tangga aku lihat Donghae tergesa-gesa mengenakan mantelnya.
“Donghae-ya... kau mau
kemana?”
“Mencari Sera tentu saja.”
Jawabya sinis
“untuk apa kau mencari anak
itu?!” kataku membentak.
“Hyung... apa kau tega
melihat yeoja berjalan sendirian-menyeret kopernya malam-malam begini?” Donghae
balas membentakku.
“terserah saja! Tapi akan
kubuat kakimu pincang jika kau berani membawa yeoja itu kembali kedalam rumah
kita!”
“rumah kita?! Ini rumah Appa
dan Eomma. Kau masih belum punya hak atas rumah ini hyung!” Donghae benar-benar
sama seperti Appa.
Aku heran kenapa semua orang
membela yeoja itu dan ayahnya daripada membelaku yang jelas-jelas keluarganya
sendiri! Tapi apakah Appa serius dengan perkataannya tadi? Ah... Molla! Lebih
baik aku istirahat.
*****
Donghae’s POV
Aku menjalankan mobilku
dengan kecepatan rendah sambil terus menengok ke kanan-kiri kalau-kalau orang
yang dicrinya sedang berteduh. Aku berhenti di sebuah halte ketika melihat
seorang yoja duduk di halte itu dengan sebuah koper disampingnya. Meskipun
hujan deras menghalangi pandanganku, tapi aku bisa memastikan kalau yeoja itu Sera.
Aku buru-buru berlari mendekati yeoja itu. Dan benar saja yeoja itu adalah Kim Sera.
“Sera-ya... gwenchana?”
kataku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
“Oppa....” suaranya parau.
Kupegang keningnya yang
mulus dan kurasakan panas menjalar di punggung tanganku.
“Sera-ya bertahanlah... “
aku berusaha untuk tidah panik. Ku angkat tubuh mungilnya masuk ke dalam mobil.
Kubalutkan mantel yang kukenakan ke tubuhnya yang menggigil kedinginan.
Aku melesatkan mobilku
menuju rumah sakit terdekat.
“Kim Sera...
bertahanlah....” bisikku.
*****
Sera’s POV
Aku berusaha membuka kelopak
mataku yang terasa berat. Mataku melihat langit-langit dan dinding berwarna
putih. Hidungku mencium bau obat-obatan yang menyengat. Aku berusaha
memperjelas pandanganku. Kulihat seorang namja tertidur dengan posisi duduk dan
kedua tangannya menggenggam tangan kananku. Aku memperhatikan namja ini
lekat-lekat. Donghae-oppa? Kenapa aku bersamanya? Aku berusaha mengingat apa
yang terjadi. Tapi sia-sia kepalaku malah terasa berdenyut.
“Kau sudah bangun?” tanya
Donghae-oppa mendongkakkan kepalanya ke arahku.
“Oppa... kenapa kau disini?
Kenapa kau bersamamu?” tanyaku bingung.
“Kau pingsan di halte. Sera-ya
apa kau sudah merasa lebih baik?” Donghae-oppa balik bertanya padaku dan
menempelkan punggung tangannya ke keningku.
Aku menjawabnya hanya dengan
anggukan.
“Tunggu sebentar, aku akan
memanggil suster. Siapa tahu kau bisa pulang lebih cepat.” Donghae-oppa berlalu
meninggalkanku.
Beberap menit kemudian
seorang suster datang memeriksa kondisi tubuhku. Tak lama Donghae-oppa datang
dengan nampan berisi makanan.
“jika keadaanmu tetap
separti ini kau sudah bisa pulang siang ini.” Ujar suster itu sambil tersenyum
Kulihat Donghae-oppa juga
tersenyum di belakang suster itu.
“ne gamsahamnida” kataku
lemas
Suster itu kemudian pergi
meninggalkan aku dan Donghae-oppa.
“Sera-ya... makanlah dulu.”
Donghae-oppa duduk disampingku dan meletakkan nampan itu di meja.
Donghae-oppa menyendokkan
bubur ke mulutku, namun aku menarik kepalaku menjauh dari sendok itu.
“Wae?” tanya Donghae-oppa.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Aku tahu kau tak suka
bubur, tapi kali ini kau harus makan bubur sampai kondisimu benar-benar pulih.
Sekarang buka mulutmu.” Donghae-oppa kembali meyodorkan sesendok bubur ke
mulutku. Tapi aku kembali menjauhkan kepalaku.
“Biar aku makan sendiri
Oppa, aku kan bukan anak kecl lagi.” Kataku merajuk
“Tidak! Aku takut kau
membuangnya!” Donghae-oppa tersenyum padaku.
Dia kembali menyuapkan
sesendok bubur itu ke mulutku da aku tak kuasa untuk menolak. Dan rasanya
sangat megerikan.
Semangkuk bubur berhasil
dipindahkan Donghae-oppa kedalam perutku. Rasanya ingin kumuntahkan kembali
semuanya.
“Sera-ya... nanti siang kita
pulang.” Ujar Donghae-oppa sambil membereskan mangkuk.
“pulang?” aku berpikir
sejenak. Aku tak punya tempat untuk pulang. Aku tunya uang untuk menyewa rumah.
Lalu kemana aku harus pulang.
“Tenang saja. Kita akan
pulang ke rumahku.” Donghae-oppa tersenyum seperti bisa membaca pikiranku.
“tapi oppa... bagaimana
dengan Hyukjae-oppa. Bukankah dia masih marah padaku?”
“kau tak perlu memikirkan
masalah itu. Appa dan Eomma sangat mencemaskanmu.”
“tapi....” belum sempat
kuselesaikan kalimatku Donghae-oppa membungkam mulutku dengan mulutnya.
Mataku hampir keluar karena
kaget. Donghae-oppa memperdalam ciumannya. Aku tak dapat menolah ataupun
membalasnya aku merasa tubuhku menegang. Namun perlahan kurasakan Donghae-oppa
menarik bibirnya dari bibirku.
“Kau tak perlu khawatir. Aku
akan selalu ada disismu.” Donghae-oppa tersenyum padaku yang masih mematung
karena kaget.
“Donghae-oppa... kenapa kau
melakukan itu?”
“Saranghae Sera-ya...”
Donghae-oppa menggenggam tanganku. Aku berusaha melepaskannya.
“Donghae-oppa... kau tahu
sendiri, aku mencintai kakakmu.”
“tapi dia sudah lupa padamu Sera-ya!”
“Tapi perasaanku padanya tak
berubah sedikitpun Lee Donghae!” kataku sedikit membentak
“Tak bisakah kau menerimaku
seperti kau menerima Hyukjae-hyung? Dia sudah menyakiti hatimu!”
Donghae menarik tubuhku.
Mencengkram bahuku kuat. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku berusaha
menghindar namun tangannya yang kuat memegang majahku. Dia mulai melumat
bibirku dengan kasar. Aku berusaha mendorongnya dengan seluruh tenaga yang
kumiliki. Berhasil.
Kurasakan mataku memanas.
Airmata mulai mengalir dari pelupuk mataku.
“Tinggalkan aku Oppa... aku
ingin istirahat.”
Aku merebahkan diri
memunggunginya. Kudengar derap langkahnya menjauh. Aku mulai terisak dan air
mataku menganak sungai.
*****
Author’s POV
Sera dan Donghae berjalan
memasuki teras rumah keluarga Lee. Namun ketika Donghae membuka pintu, Sera malah
terdiam dan ragu-ragu untuk melangkah. Donghae menarik tangan Sera dan
menggandeng Sera menuju kamarnya, seakan-akan tak terjadi apa-apa diantara
mereka. Saat mereka tiba di lantai dua Hyukjae keluar dari kamarya dan menatap
mereka sinis.
“Sera-ya... kau istirahatlah
dulu.” Donghae mengisyaratan Sera untuk masuk ke kamarnya.
Setelah Sera masuk ke
kamarnya Donghae menatap tajam pada Hyukjae.
“Hyung, Appa meminta kita
untuk menemuinya di ruang kerjanya.”
Donghae meninggalkan Hyukjae
dan bergegas menuju ruang kerja Ayahnya. Hyukjae menyusul langkah adiknya.
Kedua kakak-beradik itu
duduk menghadap ayahnya.
“Donghae-ya... Appa ingin
berterimakasih padamu karena kau telah membawa Sera kembali.” Lee Ajushi
tersenyum pada Donghae. Tapi raut wajahnya berubah serius saat menatap Hyukjae.
“Dan kau Lee Hyukjae. Karena
Donghae membawa Sera kembali kau harus menjaga sikapmu pada Sera. Jika Sera
kabur seperti kemarin lagi, orang yang pertama kali kusalahkan adala kau! Dan
aku tak akan segan-segan mengusirmu jika hal ini sampai terjadi!”
“Appa... ini tak adil!”
protes Hyukjae
“A... cham...” seperti tak
menghiraukan Hyukjae Lee Ajushi meneruskan kalimatnya
“Donghae-ya... Benarkah kau
akan pergi ke Australia untuk menyelesaikan administrasi sekolahmu?” tanya Lee
Ajushi pada Donghae.
“Ne, Appa aku akan berangkat
besok lusa pagi.”
“Appa dan Eomma juga akan
pergi ke China untuk menghadiri pertemuan besok lusa. Aku pergi kurang lebih
selama dua minggu. Untuk itu, kuserahkan tanggung jawab Sera padamu Hyukjae-ya.
Kau harus mengantar dia ke Universitas untuk mendaftar. Appa akan mentransfer
uang ke rekeningmu untuk mengurus biaya administrasinya.”
Hyukjae memilih diam, tidak
menyetujui ataupun menolak.
*****
Hyukjae’s POV
Rumah berubah lengang ketika
semua orang pergi. Tinggalah aku dan yeoja inidisini. Aku dan yeoja ini masih
mematung di depan pintu. Sampai yeoja itu berbalik menuju tangga.
“ya... Kim Sera...”
panggilku
“ne?” jawabnya sambil
menoleh kearahku.
“Appa bilang aku harus
mengantarmu untuk mengurus administrasi masuk universitas.” Kataku malas
“Lalu?” tanyanya heran.
Mungkin dia heran kenapa aku mau berbicara dengannya.
“Apa kau sudah mengambil formulirnya?”
“ne... aku sudah
mengisinya.”
“cepat ganti pakaian dan
ambil perlengkapanmu. Kita pergi.
“ne...”
Kulihat tubuhnya yang mungil
menghilang dibalik tembok. Sesaat kemudian dia turun denganmengenakan kemeja
bermarna hijau muda dan celana jeans hitam dan sebuah tas di pundak kirinya.
“Kau masuk ke universitas
mana?”
Sera menyodorkan selembar
kertas padaku. Rupanya dia masuk universitas yang sama denganku tapi kami beda
jurusan. Sera mengambil jurusan seni rupa sedangkan aku ada di jurusan seni
tari modern *author ngarang*.
Aku menunggunya mendaftar
dan mengikutiserangkaian tes. Hari mulai gelap saat kami kembali ke rumah.
Sejak tadi sepi menyelubungi kami berdua. Tak ada candaan ataupun obrolan
ringan. Mungkin dia masih merasa bersalah.
Kami masuk ke kamar
masing-masing ketika kami sampai di rumah. Kudengar dia menyalakan musik klasik
di kamarnya.
Perutku meraung-raung minta
diisi. Kuputuskan untuk menyuruh yeoja itu membuatkan ku makanan. Saat aku
berada di depan kamarnya pintu kamarnya sudah setengah terbuka. Alunan musik
klasik masih terdengar dari dalam. Aku melongokkan kepalaku. Kulihat yeoja itu
sedang menari seperti seorang ballerina. Dari gerakannya aku tahu bahwa dia
bukan penari amatir. Dasar yeoja bodoh, kemampuannya dalam menari tak bisa dibilang
biasa. Tapi kenapa dia memilih seni rupa bukan tari. Ketika dia melakukan
gerakan putaran dengan satu kaki dia kehilangan keseibnagannya dan terjatuh.
Aku tertawa pelan melihatnya. Namun dia masih belum menyadari keberadaanku.
Kulihat dia memijat pergelangan kaki kanannya. Tunggu, dia menangis? Dia
menangis hanya karena terkilir. Sesakit itukah? Aku seperti ditarik ke
masalaluku saat melihat luka memanjang dari pergelangan kakinya sampai setengah
betisnya.
Flash
back on
Aku
dan Donghae sedang asyik bermain play stasion. Aku tertawa keras saat melihat
donghae terus menerus kalah.
“Hyung,
aku tak mau main lagi!”
“wae?
Ayolah... Hae-ya”
Aku
bisa brpuas-puas mengerjai Donghae karena Appa sedang keluar kota. Dan Eomma
yang ada di dapur tak mungkin mendengar Donghae.
Duarrr......
Aku
mendengar suara ledakan yang cukup keras tak lama terdengar suara eomma
menjerit. Donghae dan aku berlari menuju dapur. Ternyata api sudah menjalar
kemana-mana. Aku berusaha mengambil alat pemadam api yang ada di ruang tengah.
Sedangkan Donghae tak henti-hentinya menangis. Pandanganku mulai tertutup asap,
namun masih bisa ku lihat Eomma yang digendong keluar oleh Kim Ajusshi dan
Donghae yang digendong Kim Ajhuma. Aku mulai merasa pusing karena terlalu
banyak meghirup asap. Tapi aku lihat seorang anak perempuan menarik lenganku.
“Oppa...
ppali... kau tak boleh diam saja disini!!”
“Sera-ya....”
suaraku serak
Anak
itu, Sera, terus menggandeng tanganku menuju keluar rumah. Namus saat melewati
dapur Sera menginjak minyak goreng yang tumpah hingga terpeleset. Sebuah kayu
yang terbekar jatuh menimpa kaki Sera. Sera menjerit. Aku terlalu panik sampai
tak tahu harus berbuat apa. Lalu Kim ajushi datang tepat pada waktunya dan
berhasil membawa kami keluar dari kobaran api.
Flash
back end
Kim Sera, Eomma, Appa,
Donghae... kenapa kalian tak pernah mengingatkanku dengan kejadian ini?!
*****
Author’s POV
Sera masih terduduk sambil
terus memijat kakinya yang terasa sangat sakit. Untuk apa aku punya kaki kalau
tak bisa kugunakan dengan baik, batinnya.
Sera baru menyadari Hyukjae
sedang memperhatikannya saat dia menoleh ke arah pintu. Sera berusaha menyeka
air matanya.
“Sera-ya...” ucap Hyukjae
pelan.
“Oppa... ada apa kau
kemari?”
“Sera-ya mianhae...” Hyukjae
berkari dan merengkuh tubuh Sera
“Oppa... wae?” tanya Sera
kebingungan.
“Sera-ya... aku ingat
semuanya. Maafkan keegoisanku Sera-ya...” kini Hyukjae menangis sambil terus
mempererat pelukannya pada Sera.
******
gimana? gaje yaaa??? lanjut atau udahan aja?
comment-nya ya....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar