Senin, 03 September 2012

Forgotten Love


FORGOTTEN LOVE part 1
author : Kim Dae-Ah
sebelumnya maaf kalo ceritanya gaje. ini FF pertana aku.
cerita ini hanya fiksi belaka, jika BANYAK kesamaan nama, tempat, ataupun karakter tokoh, tidak ada unsur kesengajaan.
say no to plagiatism!
warning typo bertebaran..
-happy reading-

jika aku tak dapat menggapaimu, maka biarkan aku pergi bersama anganku....
-kim sera-

bahkan jika kau tak mendapatkan bintangmu, cobalah untuk menggapai bintang yang lain, meski bintang itu tak seindah bintangmu
-lee donghae-
Sera’s POV
Berjam-jam sudah aku menunggu. Tapi orang yang kutunggu tak kunjung terlihat. Appa, kau yang menyuruhku pulang lebih awal. Tapi kenapa justru kau yang terlambat.
            Kutekan nomor ayahku di ponsel. Tuuut...tuut.... tak ada jawaban.
“Aissh... appa. Apa yang mmbuatmu terlambat. Ini bukan kebiasaanmu!”
Tak lama kemudian ponselku berdering.
Uri saranghaneun Appa
“Appa? Kenapa kau lama sekali. Aku hampir lumutan menunggumu disini!”
“Yoboseyo... apakah anda keluarga tuan Kim Byungwon?” suara diseberang sana jelas bukan suara appa.
“Ne... saya anaknya.”
“Ah, agashi, kami dari kepolisian ingin mengabarkan kepada anda bahwa ayah anda mengalami kecelakaan serius, sekarang ayah anda berada di rumah sakit. Nanti alamatnya akan saya kirimkan melalui pesan singkat.” Tubuhku lemas mendengar perkataan orang itu. Appa? Kecelakaan? Wae?
Setelah mendapat pesan singkat berisi alamat rumah sakit aku bergegas menuju alamat yang tertera. Sesampainya di rumah sakit aku melihat beberapa orang polisi mondar-mandir.
“Ajusshi, apa yang terjadi pada appa?” tanyaku panik.
“Appa-mu mengalami kecelakaan. Dia mengemudi dalam keadaan mabuk dan menabrak sepeda motor dan menabrak pembatas jalan.”
Appa mengemudi dalam keadaan mabuk? Benar-benar bukan kebiasaannya.
Tak lama seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat.
“Keluarga Kim Bungwon-ssi?”
“Ne, saya putrinya.”
Dokter itu menghela napasnya sebelum memulai kalimatnya.
“Agashi, kami telah berusaha semampu kami. Namun nyawanya tak tertolong.”
“Ne? Uri aboji?”
“Cwesonghamnida, kondisi jantungnya sangat lemah. Serangan jantung yang ia terima membuatnya tak mampu bertahan. Dari riwayat penyakitnya kami menemukan bahwa ayah anda mengidap kebocoran jantung setahun belakangan.” Jelas dokter
“Ne? Tapi appa tak pernah mengatakan apapun padaku?”
“Sekali lagi kami minta maaf Agashi.”
Kurasakan kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku, aku limbung dan yang kulihat hanya gelap.
*****
Author’s POV
Sudah berkali-kali Sera membolak-balik koran itu. Tepatnya di bagian lowongan kerja. Sebuah spidol di tangan kirinya berkali-kali membulati kolom-kolom lowongan pekerjaan. Sera mengacak rambutnya.
“Aiissh... kenapa cari kerja itu susah? Apalagi hanya dengan modal ijazah sekolah menengah. Aaarr.......!!!”
Tingtung.... bel pintu rumahnya berbunyi.
“Siapa sih yang datang malam-malam begini?”
Sera berjalan menuju pintu dengan malas.
“Nuguseyo?” teriaknya sebelum membukakan pintu.
“Annyeonghaseyo agashi. Apa benar ini rumah Kim Sera putri dari Kim Byungwon?”
Namja itu mengenaka setelan jas dan memegang secarik kertas ditangannya.
“Ne? Nuguseyo?”
“Ah.. akhirnya. Agashi, bisa ikut saya sebentar, tuan Lee sudah seharian mencari anda?”
“Tuan Lee?”
“Ne, Agashi. Sebaiknya anda ikut saya agar tidak penasaran.”
Sera menurut saja dan mengikuti namja itu sampai di sebuah sedan hitam yang terparkir cukup jauh dari rumah kontrakannya.
Seorang lelaki berumur sekitar 50an keluar dari mobil itu.
“Sera-ya... oremanida... (lama tak bertemu) Aigoo... kau sudah besar rupanya!”
“Ah... ne Ajusshi. Tapi... Ajushi nuguseyo?”
“Aigoo... kau tak ingat?”
“ngg.....” Sera menggigit bibirnya, berusaha mengingat wajah Ajushi yang ada didepannya.
“Ah... Lee Kyungjae Ajusshi..” Akhirnya Sera ingat
“Ne.. ne... apakah aku banyak berubah sampai kau sulit mengenaliku?”
“Tidak juga Ajusshi... sepertinya memang daya ingatku yang buruk.”
Saat itu Sera dapat tertawa dan melupakan bebannya sejenak.
“lebih baik kita lanjutkan ngobrolnya di tempat makan, masih banyak yang ingin aku bicarakan. Dan aku mulai kelaparan. Bagaimana?”
“Baiklah.”
Sera dan Lee Ajushi memasuki sebuah restoran jepang.
“kau masih suka sushi ‘kan?”
“Ne Ajushi..”
“yasudah ayo kita masuk.”
 Keluarga Sera dan keluarga Lee ajusshi memang sangat dekat. Sampai-sampai ketika eomma Sera meninggal Lee Ajhuma mampu menenangkan Sera seperti eommanya sendiri.
“Sera-ya... kudengar Appamu meninggal dunia.” Wajah Lee Ajushi berubah serius.
“Ah... Ne.. ajushi.. dokter bilang jantungnya terlalu lemah untuk bertahan. Aku bahkan tak tahu kalau Appa punya penyakit jantung.” Sera tersenyum miris mengingat Appanya.
“Maafkan ajusshi tak bisa datang ke upacara pemakamannya. Sebulan yang lalu ajusshi sedang ada pekerjaan di Jepang. Dan baru mendapat kabar seminbggu yang lalu. Aku teringat padamu. Aku mencarimu ke rumah lamamu tapi rumah itu sudah milik orang lain. Kalau Ajusshi boleh tau, apa yang terjadi pada keluargamu?”
Sera diam sejenak.
“kalau kau tak mau...” belum selesai kalimat Lee Ajushi Sera membuka mulut.
“Aniya Ajusshi. Sepertiny hanya padamu aku bisa menceritakan segalanya...
“Perusahaan Appa bangkrut. Sejak saat itu Appa bekerja disebuah perusahaan mobil dan mendapat posisi yang lumayan.
Malam itu, menurut teman kerjanya appa mendapat surat PHK, appa minum beberapa botol soju untuk menghilangkan stress, Appa mabuk dan pergi mengemudi mobil sendirian. Appa menabrak seorang pengendara motor karena rem mobilnya tak berfungsi. Appa meninggal karena serangan jantung. Seminggu setelah kepergian Appa rumah kami disita karena Appa punya hutang pada lintah darat...” Sera mulai terisak.
“Kim Byungwong. Kenapa kau tak menceritakan segalanya padaku” ucap Lee ajusshi setengah berbisik.
“Appa tak mau merepotkan siapapun Ajusshi.”
“bukan begitu Sera-ya... Aku berhutang budi pada Appamu. Dulu kau dan Appa mu menyelamatkan aku dan keluargaku.”
“aku dan appa tak melakukan apa-apa Ajusshi...” Sera berusaha tertawa dan mengalihkan pikirannya dari kepergian Appanya.
“Untuk itu, Sera-ya... maukah kau tinggal dirumah Ajusshi?”
“Ajusshi... bukannya aku tak mau tapi... aku pasti merepotkanmu.”
“Aku tak akan pernah merasa keberatan jika kau mau. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri Sera-ya... Ajhuma juga pasti senang kalau kau tinggal bersama kami. Kau tahu sendirikan Ajhuma sangat ingin anak perempuan sedangkan kedua anakku itu laki-laki.”
“Tapi mungkin Donghae dan Hyukjae keberatan kalau aku tinggal disana.”
“Tidak... kau jangan banyak beralasan. Pokoknya malam ini kau rapikan semua barangmu. Besok aku akan mengirim orang untuk menjemputmu.”
“baiklah Ajusshi...”
*****
Sera’s POV
Tawaran Lee ajusshi untuk tinggal dirumahnya seperti menyelamatkanku dari jurang kehidupan. Kontrak rumaku harusnya diperpanjang besok. tapi sekarang setidaknya aku bisa bernapas sejenak tanpa memikirkan uang sewa.
Barang-barangku sudah dikemas. Aku sudah berada dalam mobil. Dan sekarang aku sudah berada di depan kediaman Lee Ajusshi.
“Agashi, kau masuk saja barang-barangmu biar aku yang bawakan.”
“An ne... Gomabseumnida..”
Aku melangkahkan kakiku memasuki rumah besar ini. Suara yeoja yang aku kenal mulia terdeengar dari dalam rumah. Dan tak lama kemudian wujudnya muncul di mataku.
“Aigoo... Sera-ya kau sudah besar. Aku sangat senang ketika suamiku bilang kau akan tinggal disini. Aku turut berduka atas ke[pergian ayahmu.” Lee ajhuma memelukku dan aku balas memeluknya.
“Gomawo Ajhuma sudah mengijinkanku tinggal disini.”
“Ah... gwenchana.... mulai sekarang jangan kau jangan panggil aku Ajhuma. Panggila saja aku Eommoni.”
“Ah.. ne.. Eommoni.” Kataku canggung.
“Hyuk, Hae... kemarilah lihat dongsaengmu sudah datang.” Dongsaeng? Aigoo Lee Ajhuma benar-benar berlebihan.
Kulihat hanya ada seorang namja yang turun dari lantai dua. Dan menurut perkiraanku di itu Lee Donghae putra bungsu keluarga Lee.
“Sera?! Kau benar Sera?! Aigoo... kenapa kau jadi cantik begini?” tanyanya sambil terus mencubiti pipiku.
“Ah, ne Donghae-oppa...” balasku sambil memegangi pipiku yang terasa lumayan sakit karena cubitannya tadi.
Tak lama kemudian seorang namja turun dari lantai dua.
“Hyukjae-ya... ini Sera. Kau ingat?” tanya Lee Ajhuma pada namja itu.
“oh...” jawab namja itu datar. Kemudian dia berlalu meninggalkan kami.
“Ayo Sera-ya Eomma antar kamu ke kamarmu.”
Lee Ajhuma mengantarku menaiki tangga menuju lantai dua. Ternyata kamarku bersebelahan dengan kamar Hyukjae-oppa dan berhadapan dengan kamar Donghae-oppa. Kamarku menghadap ke halaman belakang yang tak kalah luas dengan halaman depan yang tadi kulihat. Rumah ini lebih mirip istana daripada rumah.
*****
Author’s POV
Tok tok...
Pintu kamar Sera diketuk.
“Masuk saja, pintunya tidak dikunci.” Sahut Sera dari dalam kamar.
“Sera-ya... Cepat turun kita makan malam.” Ajak Donghae pada Sera.
“Ne, Donghae-oppa aku akan turun sebentar lagi. Kau duluan saja.”
“Arraseo.”
Sera menuruni tangga menuju ruang makan. Disana keluarga Lee sudah duduk rapi. Sera lalu duduk disebelah Hyukjae.
“Anak-anak, ini Kim Sera anak teman Appa.” Lee Ajushi memperkenalkan Sera.
“Anyeonghasseyo.. Sera imnida...” Sapa Sera ramah.
“Sera adalah anak Kim Byungwon teman Appa dulu. Byungwon meninggal sebulan lalu karena kecelakaan yang menybabkan dirinya terkena serangan jantung. Jadi mulai sekarang Sera akan tinggal bersama kita.”
Mendengar nama Kim Byungwon mata Hyukjae hampir keluar. Karena namja bernama Kim Byungwon-lah yang menyebabkan kakinya cacat. Padahal kakinya adalah aset paling berharga untuk seorang Dancer seperti dirinya.
“MWO? Apa Aboji bilang? Kim Byungwon?” teriak Hyukjae dengan nafas tak beraturan.
“Hyukjae-ya... jangan lakukan ini di sini!” Lee ajhuma berusaha menenangkan Hyukjae.
“Eomma... Eomma kan tahu Kim Byungwon adalah orang yang membuatku seperti ini?! Kenapa Eomma mengijinkan anak dari orang yang menghancurkan mimpiku tinggal bersama kita?!” Ucap Hyukjae berapi-api.
Lee Ajhuma mulai terisak. Hyukjae berdiri dan meninggalkan ruang makan. Sedangkan Sera hanya diam mematung tak tahu harus berbuat apa.
“Mianhae Sera-ya... mungkin mood Hyukjae sedang kurang bagus.” Lee ajhuma mendekati Sera.
“Ani, Eommoni, maksudku Lee Ajhuma. Aku memang tak seharusnya berada disini.” Sera yang mulai terisak berlari menuju kamarnya.
Sera memasukkan kembali pakaiannya kedalam koper. Sera menyeret kopernya keluar kamar. Ketika dia menutup pintu kamarnya, Hyukjae sedang berjalan menuju tangga. Tatapan mereka bertemu. Hyukjae memandang Sera dengan malas. Sedangkan Sera menatap Hyukjae dengan perasaan bercampur aduk. Air matanya terus bercucuran.
Sampai di lantai bawah Sera bertemu dengan Lee Ajhuma.
“Sera-ya... Kau mau kemana?” tanya Lee Ajhuma heran.
“Aku tak seharisnya berada disini Ajhuma...” Suara Sera mulai terdengar serak.
“Aku pergi Ajhuma. Terimakasih atas segalanya dan maaf aku telah merepotkanmu. Dan sampaikan pada Hyukjae aku meminta maaf atas nama Appa, karena Appa tak mungkin meminta maaf padanya secara langsung.”
“Sera-ya kajima... Jaebal....” pinta Lee Ajhuma pada Sera
“Aniya Ajhuma. Aku tak mau merepotkan keluargamu lebih banyak.”
“Biarkan dia pergi Eomma! Aku muak melihat di ada disini!” teriak Hyukjae yang sedang menuruni tangga.
“Jaga ucapanmu Lee Hyukjae!” teriak Lee Ajhuma.
“Aku pergi Ajhuma... dan Hyukjae Oppa. Terimalah maafku atas nama Appa. Aku tak mau arwah Appa terbebani.” Sera membungkuk dalam pada Lee Ajhuma kemudian pergi menyeret kopernya menuju keluar rumah dengan perasaan tak menentu.
*****
Sera’s POV
Ɓku berjalan menyusuri trotoar tak tahu harus kemana. Aku mungkin bisa naik bis ke rumah kontrakanku yang lama. Kurogoh tas tanganku. Aku tak dapat menemukan dompetku! Sepertinya Dompetku tertinggal karena aku sangat terburu-buru tadi. Perkataan Hyukjae-oppa benar-benar membuat hatiku serasa dicabik-cabik. Aku sadari kecelakaan itu memang salah Appa. Tapi apa perlu dia mengatakannya seperti itu? Ah.. molla!!!! Aku ingin mati saja bersamamu appa..... eomma.... aku menangis sejadi-jadinya. Aku berusaha berdiri namun aku tak dapat menyeimbangkan tubuhku, alhasil kakiku keseleo, engkelku yang aga cacat akan terasa sakit jika digunakan berlari dan jika keseleo seperti ini.
Aku berusaha berjalan-meskipun terpincang-pincang menuju halte terdekat agar aku bisa duduk dengan nyaman setidaknya.
Duar..... suara petir menggelegar.
Hujan mulai turun, dan semakin lama semakin deras. Aku pakasakan diriku untuk brlari meskipun kakuki benar-benar sakit.
*****
Hyukjae’s POV
Pikiranku masih berputar-putar pada Yeoja itu. Kenapa Appa dan Eomma mengijinkan anak itu masuk ke rumah kami? Seberapa penting namja bernama Kim Byungwon itu?
“Hyung, appa memanggilmu ke ruang kerjanya.” Suara Donghae memecah lamunanku.
“untuk apa?”
Donghae hanya menatapku tajam.
Aku menuju ruang kerja Appa. Appa sudah duduk dengan ekspresi seperti siap menerkamku saat aku memasuki ruangan kerjanya.
“Appa... donghae bilangkau memanggilku. Wae?”
“Wae? Dengan entengnya kau bertanya mengapa?”
“Aku tak mengerti apa yang Appa bicarakan. Jangan berbelit-belit katakan saja apa yang ingin kau katakan.”
“YA!!! Kau benar-benar tak tahu diri Lee Hyukjae. Kau bilang apa pada Sera tadi? Meghancurkan mimpimu?! Kau tak ingat apa yang telah mereka lakukan pada keluarga kita?!”
“tidak...” jawabku enteng. Appa terlihat semakin berapi-api. Namun aku tak peduli.
“sudahlah Appa... aku lelah!!” aku beranjak dari posisiku.
“Lee Hyukjae, jika kau tak menemukan Sera dalam waktu 24 jam, aku tak akan segan-segan menendangmu keluar dari rumah ini!” teriak appa padaku.
Aku lebih memilih tak menghiraukan perkataan Appa dan melangkah keluar. Aku benar-benar tak habis pikir. Bagaimana ada seorang ayah yang lebih membela orang asing daripada anaknya sendiri.
Saat aku hendak menaiki tangga aku lihat Donghae tergesa-gesa mengenakan mantelnya.
“Donghae-ya... kau mau kemana?”
“Mencari Sera tentu saja.” Jawabya sinis
“untuk apa kau mencari anak itu?!” kataku membentak.
“Hyung... apa kau tega melihat yeoja berjalan sendirian-menyeret kopernya malam-malam begini?” Donghae balas membentakku.
“terserah saja! Tapi akan kubuat kakimu pincang jika kau berani membawa yeoja itu kembali kedalam rumah kita!”
“rumah kita?! Ini rumah Appa dan Eomma. Kau masih belum punya hak atas rumah ini hyung!” Donghae benar-benar sama seperti Appa.
Aku heran kenapa semua orang membela yeoja itu dan ayahnya daripada membelaku yang jelas-jelas keluarganya sendiri! Tapi apakah Appa serius dengan perkataannya tadi? Ah... Molla! Lebih baik aku istirahat.
*****
Donghae’s POV
Aku menjalankan mobilku dengan kecepatan rendah sambil terus menengok ke kanan-kiri kalau-kalau orang yang dicrinya sedang berteduh. Aku berhenti di sebuah halte ketika melihat seorang yoja duduk di halte itu dengan sebuah koper disampingnya. Meskipun hujan deras menghalangi pandanganku, tapi aku bisa memastikan kalau yeoja itu Sera. Aku buru-buru berlari mendekati yeoja itu. Dan benar saja yeoja itu adalah Kim Sera.
“Sera-ya... gwenchana?” kataku sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
“Oppa....” suaranya parau.
Kupegang keningnya yang mulus dan kurasakan panas menjalar di punggung tanganku.
“Sera-ya bertahanlah... “ aku berusaha untuk tidah panik. Ku angkat tubuh mungilnya masuk ke dalam mobil. Kubalutkan mantel yang kukenakan ke tubuhnya yang menggigil kedinginan.
Aku melesatkan mobilku menuju rumah sakit terdekat.
“Kim Sera... bertahanlah....” bisikku.
*****
Sera’s POV
Aku berusaha membuka kelopak mataku yang terasa berat. Mataku melihat langit-langit dan dinding berwarna putih. Hidungku mencium bau obat-obatan yang menyengat. Aku berusaha memperjelas pandanganku. Kulihat seorang namja tertidur dengan posisi duduk dan kedua tangannya menggenggam tangan kananku. Aku memperhatikan namja ini lekat-lekat. Donghae-oppa? Kenapa aku bersamanya? Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Tapi sia-sia kepalaku malah terasa berdenyut.
“Kau sudah bangun?” tanya Donghae-oppa mendongkakkan kepalanya ke arahku.
“Oppa... kenapa kau disini? Kenapa kau bersamamu?” tanyaku bingung.
“Kau pingsan di halte. Sera-ya apa kau sudah merasa lebih baik?” Donghae-oppa balik bertanya padaku dan menempelkan punggung tangannya ke keningku.
Aku menjawabnya hanya dengan anggukan.
“Tunggu sebentar, aku akan memanggil suster. Siapa tahu kau bisa pulang lebih cepat.” Donghae-oppa berlalu meninggalkanku.
Beberap menit kemudian seorang suster datang memeriksa kondisi tubuhku. Tak lama Donghae-oppa datang dengan nampan berisi makanan.
“jika keadaanmu tetap separti ini kau sudah bisa pulang siang ini.” Ujar suster itu sambil tersenyum
Kulihat Donghae-oppa juga tersenyum di belakang suster itu.
“ne gamsahamnida” kataku lemas
Suster itu kemudian pergi meninggalkan aku dan Donghae-oppa.
“Sera-ya... makanlah dulu.” Donghae-oppa duduk disampingku dan meletakkan nampan itu di meja.
Donghae-oppa menyendokkan bubur ke mulutku, namun aku menarik kepalaku menjauh dari sendok itu.
“Wae?” tanya Donghae-oppa.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Aku tahu kau tak suka bubur, tapi kali ini kau harus makan bubur sampai kondisimu benar-benar pulih. Sekarang buka mulutmu.” Donghae-oppa kembali meyodorkan sesendok bubur ke mulutku. Tapi aku kembali menjauhkan kepalaku.
“Biar aku makan sendiri Oppa, aku kan bukan anak kecl lagi.” Kataku merajuk
“Tidak! Aku takut kau membuangnya!” Donghae-oppa tersenyum padaku.
Dia kembali menyuapkan sesendok bubur itu ke mulutku da aku tak kuasa untuk menolak. Dan rasanya sangat megerikan.
Semangkuk bubur berhasil dipindahkan Donghae-oppa kedalam perutku. Rasanya ingin kumuntahkan kembali semuanya.
“Sera-ya... nanti siang kita pulang.” Ujar Donghae-oppa sambil membereskan mangkuk.
“pulang?” aku berpikir sejenak. Aku tak punya tempat untuk pulang. Aku tunya uang untuk menyewa rumah. Lalu kemana aku harus pulang.
“Tenang saja. Kita akan pulang ke rumahku.” Donghae-oppa tersenyum seperti bisa membaca pikiranku.
“tapi oppa... bagaimana dengan Hyukjae-oppa. Bukankah dia masih marah padaku?”
“kau tak perlu memikirkan masalah itu. Appa dan Eomma sangat mencemaskanmu.”
“tapi....” belum sempat kuselesaikan kalimatku Donghae-oppa membungkam mulutku dengan mulutnya.
Mataku hampir keluar karena kaget. Donghae-oppa memperdalam ciumannya. Aku tak dapat menolah ataupun membalasnya aku merasa tubuhku menegang. Namun perlahan kurasakan Donghae-oppa menarik bibirnya dari bibirku.
“Kau tak perlu khawatir. Aku akan selalu ada disismu.” Donghae-oppa tersenyum padaku yang masih mematung karena kaget.
“Donghae-oppa... kenapa kau melakukan itu?”
“Saranghae Sera-ya...” Donghae-oppa menggenggam tanganku. Aku berusaha melepaskannya.
“Donghae-oppa... kau tahu sendiri, aku mencintai kakakmu.”
“tapi dia sudah lupa padamu Sera-ya!”
“Tapi perasaanku padanya tak berubah sedikitpun Lee Donghae!” kataku sedikit membentak
“Tak bisakah kau menerimaku seperti kau menerima Hyukjae-hyung? Dia sudah menyakiti hatimu!”
Donghae menarik tubuhku. Mencengkram bahuku kuat. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku berusaha menghindar namun tangannya yang kuat memegang majahku. Dia mulai melumat bibirku dengan kasar. Aku berusaha mendorongnya dengan seluruh tenaga yang kumiliki. Berhasil.
Kurasakan mataku memanas. Airmata mulai mengalir dari pelupuk mataku.
“Tinggalkan aku Oppa... aku ingin istirahat.”
Aku merebahkan diri memunggunginya. Kudengar derap langkahnya menjauh. Aku mulai terisak dan air mataku menganak sungai.
*****
Author’s POV
Sera dan Donghae berjalan memasuki teras rumah keluarga Lee. Namun ketika Donghae membuka pintu, Sera malah terdiam dan ragu-ragu untuk melangkah. Donghae menarik tangan Sera dan menggandeng Sera menuju kamarnya, seakan-akan tak terjadi apa-apa diantara mereka. Saat mereka tiba di lantai dua Hyukjae keluar dari kamarya dan menatap mereka sinis.
“Sera-ya... kau istirahatlah dulu.” Donghae mengisyaratan Sera untuk masuk ke kamarnya.
Setelah Sera masuk ke kamarnya Donghae menatap tajam pada Hyukjae.
“Hyung, Appa meminta kita untuk menemuinya di ruang kerjanya.”
Donghae meninggalkan Hyukjae dan bergegas menuju ruang kerja Ayahnya. Hyukjae menyusul langkah adiknya.
Kedua kakak-beradik itu duduk menghadap ayahnya.
“Donghae-ya... Appa ingin berterimakasih padamu karena kau telah membawa Sera kembali.” Lee Ajushi tersenyum pada Donghae. Tapi raut wajahnya berubah serius saat menatap Hyukjae.
“Dan kau Lee Hyukjae. Karena Donghae membawa Sera kembali kau harus menjaga sikapmu pada Sera. Jika Sera kabur seperti kemarin lagi, orang yang pertama kali kusalahkan adala kau! Dan aku tak akan segan-segan mengusirmu jika hal ini sampai terjadi!”
“Appa... ini tak adil!” protes Hyukjae
“A... cham...” seperti tak menghiraukan Hyukjae Lee Ajushi meneruskan kalimatnya
“Donghae-ya... Benarkah kau akan pergi ke Australia untuk menyelesaikan administrasi sekolahmu?” tanya Lee Ajushi pada Donghae.
“Ne, Appa aku akan berangkat besok lusa pagi.”
“Appa dan Eomma juga akan pergi ke China untuk menghadiri pertemuan besok lusa. Aku pergi kurang lebih selama dua minggu. Untuk itu, kuserahkan tanggung jawab Sera padamu Hyukjae-ya. Kau harus mengantar dia ke Universitas untuk mendaftar. Appa akan mentransfer uang ke rekeningmu untuk mengurus biaya administrasinya.”
Hyukjae memilih diam, tidak menyetujui ataupun menolak.
*****
Hyukjae’s POV
Rumah berubah lengang ketika semua orang pergi. Tinggalah aku dan yeoja inidisini. Aku dan yeoja ini masih mematung di depan pintu. Sampai yeoja itu berbalik menuju tangga.
“ya... Kim Sera...” panggilku
“ne?” jawabnya sambil menoleh kearahku.
“Appa bilang aku harus mengantarmu untuk mengurus administrasi masuk universitas.” Kataku malas
“Lalu?” tanyanya heran. Mungkin dia heran kenapa aku mau berbicara dengannya.
“Apa kau sudah mengambil formulirnya?”
“ne... aku sudah mengisinya.”
“cepat ganti pakaian dan ambil perlengkapanmu. Kita pergi.
“ne...”
Kulihat tubuhnya yang mungil menghilang dibalik tembok. Sesaat kemudian dia turun denganmengenakan kemeja bermarna hijau muda dan celana jeans hitam dan sebuah tas di pundak kirinya.
“Kau masuk ke universitas mana?”
Sera menyodorkan selembar kertas padaku. Rupanya dia masuk universitas yang sama denganku tapi kami beda jurusan. Sera mengambil jurusan seni rupa sedangkan aku ada di jurusan seni tari modern *author ngarang*.
Aku menunggunya mendaftar dan mengikutiserangkaian tes. Hari mulai gelap saat kami kembali ke rumah. Sejak tadi sepi menyelubungi kami berdua. Tak ada candaan ataupun obrolan ringan. Mungkin dia masih merasa bersalah.
Kami masuk ke kamar masing-masing ketika kami sampai di rumah. Kudengar dia menyalakan musik klasik di kamarnya.
Perutku meraung-raung minta diisi. Kuputuskan untuk menyuruh yeoja itu membuatkan ku makanan. Saat aku berada di depan kamarnya pintu kamarnya sudah setengah terbuka. Alunan musik klasik masih terdengar dari dalam. Aku melongokkan kepalaku. Kulihat yeoja itu sedang menari seperti seorang ballerina. Dari gerakannya aku tahu bahwa dia bukan penari amatir. Dasar yeoja bodoh, kemampuannya dalam menari tak bisa dibilang biasa. Tapi kenapa dia memilih seni rupa bukan tari. Ketika dia melakukan gerakan putaran dengan satu kaki dia kehilangan keseibnagannya dan terjatuh. Aku tertawa pelan melihatnya. Namun dia masih belum menyadari keberadaanku. Kulihat dia memijat pergelangan kaki kanannya. Tunggu, dia menangis? Dia menangis hanya karena terkilir. Sesakit itukah? Aku seperti ditarik ke masalaluku saat melihat luka memanjang dari pergelangan kakinya sampai setengah betisnya.

Flash back on
Aku dan Donghae sedang asyik bermain play stasion. Aku tertawa keras saat melihat donghae terus menerus kalah.
“Hyung, aku tak mau main lagi!”
“wae? Ayolah... Hae-ya”
Aku bisa brpuas-puas mengerjai Donghae karena Appa sedang keluar kota. Dan Eomma yang ada di dapur tak mungkin mendengar Donghae.
Duarrr......
Aku mendengar suara ledakan yang cukup keras tak lama terdengar suara eomma menjerit. Donghae dan aku berlari menuju dapur. Ternyata api sudah menjalar kemana-mana. Aku berusaha mengambil alat pemadam api yang ada di ruang tengah. Sedangkan Donghae tak henti-hentinya menangis. Pandanganku mulai tertutup asap, namun masih bisa ku lihat Eomma yang digendong keluar oleh Kim Ajusshi dan Donghae yang digendong Kim Ajhuma. Aku mulai merasa pusing karena terlalu banyak meghirup asap. Tapi aku lihat seorang anak perempuan menarik lenganku.
“Oppa... ppali... kau tak boleh diam saja disini!!”
“Sera-ya....” suaraku serak
Anak itu, Sera, terus menggandeng tanganku menuju keluar rumah. Namus saat melewati dapur Sera menginjak minyak goreng yang tumpah hingga terpeleset. Sebuah kayu yang terbekar jatuh menimpa kaki Sera. Sera menjerit. Aku terlalu panik sampai tak tahu harus berbuat apa. Lalu Kim ajushi datang tepat pada waktunya dan berhasil membawa kami keluar dari kobaran api.
Flash back end

Kim Sera, Eomma, Appa, Donghae... kenapa kalian tak pernah mengingatkanku dengan kejadian ini?!
*****
Author’s POV
Sera masih terduduk sambil terus memijat kakinya yang terasa sangat sakit. Untuk apa aku punya kaki kalau tak bisa kugunakan dengan baik, batinnya.
Sera baru menyadari Hyukjae sedang memperhatikannya saat dia menoleh ke arah pintu. Sera berusaha menyeka air matanya.
“Sera-ya...” ucap Hyukjae pelan.
“Oppa... ada apa kau kemari?”
“Sera-ya mianhae...” Hyukjae berkari dan merengkuh tubuh Sera
“Oppa... wae?” tanya Sera kebingungan.
“Sera-ya... aku ingat semuanya. Maafkan keegoisanku Sera-ya...” kini Hyukjae menangis sambil terus mempererat pelukannya pada Sera.
******
gimana? gaje yaaa??? lanjut atau udahan aja?
comment-nya ya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar