Senin, 17 September 2012

It's Not Too Late


this is my second FF
ceritanya based ob the true story. (curhat)
main cast : Leeteuk as Park Jungsoo
happy reading
comment membangun sangat diharapkan.
maaf kalo banyak Typo atau ceritanya ngawur :)


Dae ah’s POV
“dae ah! aku mohon... bantu aku!”
“gak mau!”
“aku mohon. Kali ini saja! Please!”
Bukannya menjawab aku justru melanjutkan membaca novel. Lama-lama dia kesal dan mengambil novel yang berjudul The Liar itu dariku.
“Park Jung Soo! apa-apaan sih?!”
“kau yang salah? Mengapa kau tidak menghiraukanku!”
Aku menghela napas.
“so? Apa mau mu?!”
“aku minta tolong tuliskan puisi untukku!”
“untuk apa?” tanyaku heran.
“ada deh... pokoknya puisi untuk perempuan. Yang bisa menyentuh hatinya!”
“berani bayar berapa kamu?!”
“emmm.... aku traktir kamu makan es krim.”
“hanya itu?”
Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Aish... anak ini selalu berhsil membujukku!
 “ya sudah.”
Aku mulai menulis puisi saat itu juga. Jung Soo memandangiku. Jujur aku tak betah ditatap seperti ini. Apa lagi oleh Jung Soo. Aku sudah menyukainya sejak kelas 8. Namun aku tak pernah berani mengungkap perasaanku. Aku membayangkan Jung Soo membacakan puisi yang aku tulis untuk perempuan lain. Mataku memanas membayangkan hal itu. Tak terasa sebutir bening menetes dari pelupuk mataku. Tak kusadari Jung Soo masih memperhatikanku.
“sedahsyat itukah puisi yang kau buat?”
“ah... tidak juga.” Aku tersenyum
“buktinya kau sampai menangis menulisnya.”
“menangis! Siapa yang menangis? Aku hanya kelilipan!”
“arasseo... sudah selesai?”
“sudah. Nih!”
Aku memberikan selembar kertas yang berisi coretan-coretan kata-kata ala pujangga galau *lebay*. Aku bahkan memasukkan kata-kata favorit ku. “aku tak ingin memberikan padamu cinta yang membara. Mungkin bara cinta akan membakar dan melukai hatimu. Aku hanya akan memberikan kehangatannya. Kehangatan yang abadi.”
Ah... apa jadinya kalau kata-kata itu Jung Soo katakan padaku? Mungkin aku akan terbang melayang.
*****
Hari Minggu. Jung Soo menepati janjinya untuk mentraktirku makan es krim. Dia janji menjemputku jam 11. Dan seperti biasa dia terlambat.
“kakakmu tidak ada kan?”
“tidak. Dia bilang dia mau kerja.”
“huh... syukurlah. Bisa mati aku kalau kakakmu tahu.”
“hahaha... kau takut pada Dae Eun oppa?”
“ah, sudahlah. Ayo berangkat!”
Aku duduk di atas motur Jung Soo. Jarang sekali dia mengizinkan perempuan untuk duduk di motor kesayangannya, hadiah dari orang tuanya saat dia masuk SMA. Jujur aku sangat senang.
sesampainya di cafĂ© favorit ku aku melihat keadaan sekitar dan aku mendapati tempat favorit ku kosong. Aza!!!  Meja itu berada dekat jendeal yang menghadap ke sebuah taman bermain. Aku senang melihat anak-anak yang sedang bermain didampingi orang tua mereka.  Benar-benar hari keberuntunganku! Aku langsung duduk dan siap memesan. Aku tak perlu repot-repot melihat daftar menu. Karena aku hafal betul semua menu yang ada di sini.
“ya! Kenapa kau memilih tempat dekat jendela? Panas!”
“aku suka tempat ini!”
“terserahlah” Jung Soo mulai membuka-buka menu
“kau mau pesan apa?” tanya Jung Soo
“waffle sundae dan banana split.” Jawabku riang.
“aku mau.... banana split saja.” Jawabnya datar.
Aku mengangkat tangan, tak lama pelayan datang menghampiri kami.
“eonni...” begitu aku memanggil pelayan perempuan yang menghampiri kami.
“hey. Sudah lama kau tak kesini. Kemana saja?” tanya Nana-eonni begitu ia menghampiriku.
“aaa... aku sibuk dengan tuga sekolah.”
“siapa ini? Namja chingu?” tanyanya sambil menyikut tanganku.
“bukan... hanya Chingu.” Balasku sambil tersenyum.
“apa yang mau kau pesan.” Katanya sambil mengeluarkan buku kecil dan pulpen.
“aku seperti biasa dan satu banana split. Dan satu banan split untuk bocah ini ” kataku sambil menatap Jung Soo dengan tatapan meledek, yang langsung dibalas tatapan garang Jungsu.
“ne...” balas Nana-eonni sambil terkekeh
Na na-eonni meninggalkan meja kami dan kembali ke dapur. Jungsu masih menatapku heran.
“wae? Heran dia mengenalku?” tanyaku.
Dia hanya mengangguk.
“dia teman kakakku. Dia manager disini. Hebat kan? Karena aku, kita dilayani langsung oleh manager.”
“jinca?” dia menggelengkan kepalanya dan aku hanya tersenyum kecil.
“kau tahu Han So Ra sunbae?” tanyanya malu-malu.
“tahu. Memangnya kenapa?” jawabku heran.
“puisi yang kemarin itu untuk dia.” Katanya sambil tersenyum.
Seperti disambar petir. Aku tidak menyangka Jung Soo tertarik dengan So Ra Sunbae.
“aku akan memintanya untuk jadi pacarku besok.” Ucapnya pelan.
“apa aku tidak salah dengar?” aku berusaha memastikan bahwa pendengaranku masih baik-baik saja.
“tentu saja tidak bodoh!”
“neol bichoso!” pekikku padanya.
Aku menarik tasku dan hendak pergi. Namun seseorang berseragam pelayan menghampiri meja kami. Dan itu Dae Eun-oppa! Aissshh!!! Mati aku!
“Jung Soo! Ppali ka! Dae Eun-oppa disini.”
“aiiissshh... kenapa dia muncul tiba-tiba!”
Oow.... terlambat!
“ya!!! Kau bilang kau akan tetap di rumah?! Kenapa kau ada disini?!” nada bicaranya pelan namun cukup membuat aku takut.
Oppa membawaku ke dapur. Oppa memang jadi over-protective kepadaku sejak kepergian eomma dan appa.
“ya... siapa namja itu? Mengapa kalian berduaan.”
“oppa... dengar dulu penjelasanku. Dia hanya chingu. Bukan siapa-siapa.”
Kedatangan Na Na-eonni sukses membuat oppa tutup mulut.
“sekarang biarkan aku kerja dan kau.. cepat pulang dan tetap diam di rumah!!”
“ne...” aku hanya bisa tertunduk.
Aku pergi meninggalkan dapur dan bergegas pulang dan lupa dengan Jung Soo. Pukul 5 sore. Aku baru mengirim pesan pada Jung Soo.
“Jung Soo... Mian... Dae eun-oppa memang begitu sejak eomma dan appa pergi. Sekali lagi mian...”
Keesokan harinya... aku masih merasa bersalah karena bebrohong pada oppa. Untuk aku minta maaf aku membuatkannya sup kimchi untuk sarapan. Oppa baru bangun ketika aku sudah selesai masak. Aku duduk di meja makan tanpa menyentuh makanan sedikitpun. Oppa keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di hadapanku. Aku membuka pembcaraan untuk memecah keheningan.
“oppa... apa sup kimchinya enak?” tanyaku sambil tersenyum
Oppa hanya diam.
“oppa maaf kan aku atas kejadian kemarin.” Kepalaku tertunduk.
Oppa tertawa keras.
“kenapa kau tertawa?”
“kau kira aku masih marah dengan kejadian kemarin?”
“ne...”
“tenang saja Dae Ah. aku sudah memaafkan kamu. Maafkan aku juga karena sudah bersikap berlebihan. Aku hanya tak mau kau kenapa-kenapa. Mianhae saengi...” masih dengan tawa yang tersisa.
“emm... arasseo... hah?! Jam berapa ini. Bichoseo! Aku bisa terlambat! Oppa aku berangkat yaa...” aku langsung bangkit dari duduk dan berlari menuju pintu.
“ne... hati-hati!”
Aku berlari menuju halte. Beruntung bis baru tiba. Aku langsung lompat kedalam bis. Ternyata bis itu sudah penuh. Aku tidak dapat tempat duduk... sial! Umpatku dalam hati. Di kursi belakang aku melihat seseorang yang sudah sangat ku kenal. Park Jung Soo. Di sebelahnya duduk seorang wanita cantik anggota cheer leader sekolah kami. HAN-SO-RA!! Aisssh.... ternyata anak ini serius dengan perkataannya kemarin.
Aku turun dari bus dan berjalan menuju gerbang sekolah. Aku berjalan dengan kepala tertunduk. Seseorang menepuk pundakku. Aku langsung mengangkat kepalaku.
“dae ah.. gwencana?”
“o... Yae Ri-a...” ku tersenyum pahit
“aku sudah melihatnya. Aku tak menyangka Jung Soo bisa seperti itu. Dia sangat berbeda sekarang.” Yaeri mengeleng-gelengkan kepalanya seolah dia pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Aku tak berkata apa-apa sampai kami berada dalam ruang kelas. Jung Soo duduk dikerumuni teman-temannya. Sepertinya mereka merayakan hari jadian Jung Soo dengan So Ra-sunbae. Melihat aku memperhatikannya Jung Soo menghampiri aku dan Yae Ri.
“Dae Ah, gomawo... jeongmal gomawo. So Ra-noona langsung luluh ketika aku bacakan puisi itu.”
“Noona?!” teriak Yae Ri
“oh... chukhae Jung Soo-a” jawabku datar.
Jung Soo kembali ke tempat duduknya. Yae Ri terus menatapku dengan perasaan khawatir.
“nan gwenchana Yae Ri-a...” aku tersenyum kepada Yae Ri untuk menunjukkan aku tidak apa-apa.
*****
Musim berganti, namun tidak untukku. Setiap hari terasa seperti musim gugur bagiku. Dingin dan kering. Ternyata hubungan Jung Soo dan So Ra-sunbae terus berlanjut. Bahkan hingga sekarang. So Ra-sunbae sudah lulus dan melanjutkan sekolahnya ke Seoul. Sedangkan Jung Soo masih disini, di Busan. Pernah sekali Jung Soo bercerita padaku dan Yae Ri. Dia bilang dia akan setia pada So Ra-sunbae meskipun harus terpisah jarak yang jauh. Yah... mau bagaimana lagi salahku sendiri tak pernah menyatakan cintaku. Yang aku pikirkan sekarang bukan bagaimana caranya agar aku bisa bersama Jung Soo. Tapi bagaimana caranya agar Jung Soo tetap bahagia.
*****
Oppa mendapat beasiswa untuk kuliah di Seoul. Dan aku bangga memliki Oppa seperti Dae Eun-oppa. Sejak eomma dan appa meninggalkan kami, oppa-lah yang membiayai hidup kami. Pernah kami minta bantuan pada samchun, namun yang terjadi justru kami diusir. Meskipun Oppa dan aku hanya berbeda 3 tahun, namun Oppa lebih giat daripada aku. Oppa sudah bekerja sejak dia masuk SMA dia mengantar susu dan koran. Dia bekerja paruh waktu di mini market. Ah... uri oppa....
Hari ini oppa pulang dari Seoul karena hari ini adalah ulang tahunku yang ke 18. Oppa bilang dia akan memberikan aku kejutan. Aku penasaran, kejutan apa yang akan oppa berikan. Yae Ri juga datang. Bel berbunyi. Itu pasti oppa. Aku buru-buru membuka pintu. Ternyata memang oppa.
“dae ah... saengil chukhae.... oppa membawakanku sebuah chese cake. Dan satu lagi kejutan dariku. Kenalkan. Ini yeoja chingu-ku.”
Oppa menarik tangan yeoja yang sejak tadi bersembunyi di belakang punggung oppa.
“kenalkan ini Han So Ra. So Ra-ya ini dongsaeng ku Dae Ah.”
So Ra-sunbae menndukan kepala padaku. Aku kaget bukan main. Rasanya seperti ada petir yang menyambar kepalaku. Aku berusaha menyembunyikan rasa kagetku dari oppa.
“ayo masuk!!” ajakku...
Saat oppa dan So Ra-sunbae masuk, Yae Ri yang tadinya duduk langsung berdiri. Dan reaksinya saat melihat So Ra-sunbae sama sepertiku. Terkejut. Aku mengisyaratkan Yae Ri untuk diam. Dan Yae Ri mengerti.
Pestaku berlangsung begitu saja. Aku tertawa, tersenyum... tapi semua itu palsu.
Setelah pesta selesai oppa mengantarkan So Ra-sunbae pulang. Aku dan Yae Ri masih di rumah. Aku mengajak Yae Ri ke kamarku.
“Dae Ah... gwenchana?”
“ani... Yae Ri-a... aku sangat buruk.”
Tangisku tumpah seketika. Aku menyandarkan bahuku di pundak Yae Ri sahabatku.Yae Ri memelukku dan menepuk pundakku.
“tenang Dae Ah. kita pasti meemukan jalan keluarnya.”
“Yae Ri-a, aku bingung. Aku ingin Oppa bahagia. Namun aku juga tak mau Jung Soo dikhianati seperti ini.”
“aku tahu Dae Ah. sekarang lebih baik kau tenang agar kau tidak terlihat habis menangis ketika Dae Eun-oppa datang.”
Aku berusaha menenangkan diriku.
“kau tahu, aku tak mau menghancurkan kebahagiaan Oppa karena dulu saat dia SMA dia bahkan tidak sempat pacaran karena dia terlalu sibuk bekerja. Sekarang oppa menemukan yeoja yang dia sukai. Tapi kenapa yeoja itu harus So Ra-sunbae.”
“kau harus tabah Dae Ah...”
*****
Aku mengantar Yae Ri ke halte dan ketika aku pulang Dae Eun-oppa sudah ada di rumah. Duduk di depan TV.
“Dae Ah. menerutmu So Ra bagaimana?”
“Yeoppo...”
“Dia cocok kan dengan ku?”
Aku tidak menjawab.
“Oppa, besok aku harus ke sekolah. Aku akan tidur sekarang.” Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aku memejamkan mataku. Tapi aku tak dapat tidur. Aku menyalakan musik dari handphone-ku. Akhirnya aku bisa terlelap setelah dua jam menangis. Untung saja mataku tidak bengkak jadi aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku duduk di kelas. Jung Soo masuk ke kelas sambil tersenyum. Dia menghampiriku dan Yae Ri.
“Kalian tahu?” tanyanya tiba-tiba.
Aku dan Yae Ri menggelengkan kepala
“So Ra-noona kembali dari Seoul tadi malam. Da dia menemuiku pagi ini. Dia bilang dia rindu padaku.” Katanya sambil tersenyum gembira.
“Kau masih berhubungan dengan yeoja itu?” tanya Yae Ri tajam.
“siapa yang kau sebut Yeoja? Tidak sopan. Setidaknya kau harus memanggilnya sunbae. Lebih bagus lagi kalau kalian memanggilnya eonni.”
“sudahlah Yae Ri...” aku mencoba menghentikan pertengkaran Yae Ri dan Jung Soo.
“tapi Dae Ah...” belum sempat Yae Ri melanjutkan kalimatnya. Seonsaengnim masuk ke kelas kami.
Untung saja Seonsaengnim datang jadi aku tak perlu repot-repot menghentikan adu mulut mereka. Selama jam pelajaran aku tak dapat berkonsentrasi. Kepalaku terasa berdenyut membuatku terhunyung dari posisi dudukku. Seketika yang kulihat hanyalah gelap.
“Dae ah...” kau bisa mendengarku?”
Suara Yae Ri samar-samar terdengar. Bau obat-obatan mulai tercium. Aku yakin aku berada di UKS sekarang. Aku berusaha membuka mataku. Perlahan terlihat sosok Yae Ri yang sedang memegangi tanganku.
“dae ah... akhirnya kau sadar.” Kekhawatiran adalah ekspresi yang pertama aku tangkap dari yeoja manis ini.
“apa yang terjadi padaku?” tanyaku pada Yae Ri.
“kau pingsan... ada apa denganmu?”
“aku tidak apa-apa Yae Ri-a. Mungkin aku kurang tidur.” Aku mengembangkan senyum agar Yae Ri tidak terlalu khawatir.
“ayo aku antar pulang. Eomma-ku sudah siap di depan.” Katanya sambil membawa tasku.
“kau tak usah repot-repot begini Yae Ri-a.”
“sudahlah... kau sudah seperti saudaraku sendiyi Dae Ah...” jawab Yae Ri sambil menarik tanganku.
Eomma Yae Ri mengantarku sampai depan rumah. Aku berterimakasih padanya. Aku segera memasuki rumah. Dan mengejutkan. Di dalam sudah ada So Ra-sunbae.
“kenapa kau sudah pulang?” tanyanya dengan ekspresi menjijikan.
“oh, ada sedikit masalah jadi aku harus pulang lebih cepat. Aku ingin bicara denganmu. Tapi aku mau mengganti pakaianku dulu.” Kataku sambil berlalu dari ruangan itu.
“oke...”
Aku masuk ke kamar, mengganti pakaianku. Sebelum membuka gagang pintu aku menarik napas dalam-dalam.
“oppa kemana?” tanyaku memecah kesunyian.
“dia sedang belanja. Katanya dia ingin menyiapkan makan malam untukmu.” Jawabnya tanpa menatapku.
“lalu kenapa kau tidak ikut?” tanyaku sisnis.
“Dae Eun-oppa menyuruhku diam disini karena kakiku terkilir.” Dia masih tak melihat ke arahku.
“oh.. begitu.” Jawabku masih dengan nada sinis.
“kau bilang kau ingin bicara denganku. Soal apa?” sekarang dia memutar badannya dan menghadapkan wajahnya ke arahku.
“emmm.... kau tidak mengingatku?” tanyaku ragu.
“aku ingat. Kau temannya Jung Soo kan?” jawabnya datar.
“ne... apakah kau putus dengan Jung Soo?” tanyaku pelan.
“aku belum berencana memutuskannya.” Jawabnya masih dengan ekspresi datar.
“wae?” tanyaku dengan nada meninggi. Aissshh... kalau aku memegang golk saat ini. Mungkin dia sudah kucincang habis-habisan.
“Jung Soo itu bocah yang lucu. Aku hanya menganggap dia mainanku.” Jawabnya sambil tersenyum menjijikan.
“mwo? Mainan?” bentanyaku tak percaya. Tak kusadari aku mulai menangis.
“wae? Kau tidak suka?” jawabnya sambil terus tersenyum di atas penderitaanku.
“ya!! Yeoja macam apa kau ini?!” suaraku memenuhi ruangan itu.
“lalu apa maumu? Aku putus dengan Jung Soo? Oke kalau itu memang mau mu.” Jawabnya datar.
“neo! Jeongmal!” aku berteriak. Tamparanku hampir mendarat di pipinya.
“kenapa kau tidak suka?” katanya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
Aissshh.... dia memang setan bertubuh yeoja! Aku berlari keluar. Aku pergi ke taman dekat Cafe tempat Na Na-eonni bekerja. Aku duduk di sebuah kursi taman di bawah sebuah pohon rindang. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa memperdulikan orang yang berlalu-lalang dann menatap heran kepadaku. Aku segera menelepon Na Na-eonni. Aku tahu dia pasti punya solusi untuk masalahku. Tak lama Na Na-eonni keluar dengan masih mengenakan seragam kerjanya.
“eonni, mian aku menggaggu kerjamu.”
“tak apa Dae Ah. sepertinya kau habis menangis. Wae?”
“eonn.i.. aku tak tahu harus mulai dari mana. Pikiranku sangat kacau saat ini.”
“lebih baik kau kedalam dan minum secangkir teh dulu.”
Aku menuruti kata-kata Na Na-eonni. Aku duduk di meja favoritku. Tak lama Na Na-eonni datang dengan sepoci teh dan beberapa kue.
“ini, minum dulu, baru kau ceritakan semuanya.” Sambil meletakkan nampan yang berisikan makanan dihadapanku.
Eonni ini benar-benar seperti kakakku sendiri. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya.
Setelah mengkabiskan secangkir teh dan dua keping biskuit aku mulai menceritakannya. Dari mulai rasa sukaku pada Jung Soo sampai kejadian di rumah tadi. Aku menceritakan semaunya tanpa melewatkan satu detail pun. Dan aku menghabiskan waktu hampir sejam untuk semua ceritaku. Selama aku bercerita Na Na-eonni hanya sesekali mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun.
“jadi begitu.... aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang dae ah.”
“lau.. menurutmu, apa yang harus aku lakukan eonni?”
“emmm... kalu menurutku, kau harus menceritakan semuanya pada Dae Eun.”
“tapi bagaimana kalau Oppa tidak percaya kalau So Ra-sunbae itu bukan wanita baik-baik?”
“setidaknya kau sudah mengatakan yang sebenarnya.”
“kau benar... aku harus menceritakan semuanya pada Dae Eun-oppa.”
“yap... begitu baru Dae Ah yang aku kenal.”
“gomabseumnida eonni atas waktunya. Dan maaf aku selalu mengganggumu saat aku punya masalah.”
“tak apa... kau sudah aku anggap sebagai dongsaeng-ku sendiri.”
Aku meninggalkan Cafe itu dengan perasaan lebih tenang daripada ketika aku memasukinya. Aku segera pulang dan mencari keberadaan Oppa. Namun yang kudapati hanya sisa irisan kimbab secarik kertas dia atas meja.
“aku pergi jalan-jalan dengan So Ra. Aku akan pulang agak larut.”
Begitu tulisan yang tertera di atas kertas itu, dan itu tulisan Oppa. Akhirnya aku hanya duduk dan memakan kimbab itu sambil menonton TV. Aku sengaja menunggu Oppa pulang untuk menceritakan semuanya.
Oppa pulang dengan wajah sumringah. Meskipun tak tega menghancurkan kebahagiaan Oppa hari itu aku harus menceritakan semuanya pada Oppa. Harus!!!
Aku mulai menceritakan semuanya. Raut wajah Oppa langsung berubah dingin saat aku selesai menceritakan semuanya. Aku merasa lega sekaligus khawatir dengan apa yang akan terjadi sekarang. Namun kata-kata oppa mengejutkanku.
“aku tahu ada yang kau sembunyikan sejak aku mengenalkan So Ra padamu. Tapi aku tak berani menanyakannya padamu. Aku tak mau mengganggu privasimu. Kalau memang begitu kenyataannya, apa yang kau inginkan Dae Ah-ya...”
“aku ingin Oppa putus dengan So Ra-sunbae. Tapi kalau itu membuat hati Oppa sakit, jebal... jangan lakukan itu.”
“Dae Ah-ya.. kau tahu, untukku tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat kau bahagia. Aku tak punya keluarga lagi selain dirimu. Jadi, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Arasseo?”
Aku terharu mendengar kata-kata Oppa. Aku memeluk oppa dengan erat seerat yang aku bisa. Oppa membalasnya dengan membelai rambutku.
“gomawo oppa... mianhae...”
“sudahlah... jangan menangis.” Oppa melonggarkan pelukannya dan mengusap pipiku yang basah karena air mata.
Aku berusaha menghentikan tangisku. Oppa memegang bahuku dengan erat.
“besok aku harus kembali ke Seoul. Kau sudah tak apa-apa, kan?”
“ne...”
“sekarang kau pergi tidur agar kau tidak terlambat bangun.”
“ne..  Oppa”
*****
Sinar matahari menerobos masuk melalu celah gordyn kamarku. Aku membuka mataku pelan. Huh... Sepertinya satu batu besar yang menghimpit dadaku sudah lepas karena perkataan Oppa semalam. Beruntung sekali aku punya Oppa seperti dia.
Aku berjalan menuju ruang makan dan mengambil secarik sertas yang tertempel di kulkas.
Kau jangan sampai lupa makan. Ingat penyakitmu itu bisa kambuh kalau kau terlambat makan. Oppa sudah menyiapkan sarapan untukmu. Dan satu lagi, kau tak usah memikirkan masalah So Ra. Aku akan membereskannya.    –Kim Dae Eun-
*****
Aku berjalan menuju gerbang sekolah, aku melihat Jung Soo berbicara dengan seseorang. Raut wajahnya yang tadinya cerah ceria berubah muram. Ada apa Jung Soo-ya... dan siapa yeoja yang sedang bicara dengannya? Aku meneruskan jalanku, kemudian yeoja yang tadi berbicara dengan Jung Soo berbalik. Dan itu adalah So Ra-sunbae. Apa yang dikatakannya sampai Jung Soo mematung di depan gerbang sekolah seperti itu? Saat dia lewat di depanku dia menyeringai seperti setan.
Setelah So Ra-sunbae berlalu aku berlari menghampiri Jung Soo yang masih mematung.
“Jung Soo-ya... gwenchana?”
“Ani.... An gwenchana!”
“Waeyo?”
“ch.... jangan berpura-pura bodoh Kim Dae Ah!!!” Jung Soo membentakku. ada apa ini? apa yang dikatakan yeoja itu?!
*****
Jung Soo’s POV
 Aku turun dari bis dan segera berlari menuju gerbang sekolah. Aku melihat Noona sudah menungguku. Aku melambaikan tangan ke arahnya. Kulihat dia tersenyum padaku. Aigoo... kenapa senyumnya begitu indah...
“Noona...” teriakku sambil berlari kearahnya.
“oh.. Jungsu-ya, wasseo?”
Aku hanya menjawabnya dengan anggukkan.
Senyuman di wajah So Ra-noona memudar saat dia mulai bicara.
“Jungsu-ya, aku kemari untuk mengatakan sesuatu.” Katanya pelan.
“mwo? Malhae Noona!” kataku.
“aku akan kembali ke Seoul hari ini. Dan.....” kalimatnya terputus. Dia seperti melihat ke arah belakangku.
“dan apa Noona?” kataku mengembalikan kesadarannya.
“Dan aku ingin kita putus.” Katanya pasti.
“mwo?” teriakku.
“Jungsu-ya... aku sudah lelah berpacaran dengan orang yang tidak pengertian sepertimu.”
“Noona... jika itu alasannya aku janji aku akan berubah!” kataku memelas.
“Ani Jungsu-ya... aku suda mendapatkan orang yang lebih baik. Orang yang selalu ada saat kau tak ada disisiku. Dia bahkan memintaku untuk putus denganmu. Dia punya segala yang aku inginka, yang tak ada pada dirimu Jungsu-ya” Jawabnya sambil tersenyum.
“nugu? Siapa orang itu? Katakan padaku Noona!” kataku berapi-api.
“Dia Kim Dae Eun, kakak Kim Dae Ah, temanmu. Dia benar-benar sempurna untukku Jungsu-ya!”
“Mwo?” aku benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja So Ra-noona kataakan.
“Aku sudah mengatakan semuanya Jungsu-ya... aku harus pergi sekarang.” So Ra-noona membalikkan badannya. Aku berusaha memanggilnya namun dia terus berjalan seolah tak peduli dengan panggilanku.
Dari kejauhan kulihat Dae Ah berjalan menghampiriku.
“Jung Soo-ya... gwenchana?” tanyanya dengan tatapan yang tak adapat kuartikan karena emosiku.
“Ani.... An gwenchana!” jawabku memalingkan wajahku darinya.
“Waeyo?” tanyanya lagi.
“ch.... jangan berpura-pura bodoh Kim Dae Ah!!!” bentakku padanya. Mengapa dia pura-pura tak tahu?
Aku berlalu tanpa memperdulikannya. Aku memasukki ruangan kelas dengan wajah kusut. Yae Ri menatapku heran, namun tak ku gubris. Tak lama Dae Ah masuk ke kelas dan menghampiriku.
“Jung Soo-ya? Kau kenapa? Aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang kau katakan!” tanyanya panjang lebar.
“Mwo tak mengerti? Kalau begitu tanyakan saja pada Oppa mu Kim Dae Ah!” bentakku padanya. Kulihat wajahnya berubah pucat.
“Dae Ah sudahlah, biarkan anak bodoh ini tenang dulu.” Yae Ri berhasil menarik Yeoja itu dari hadapanku.
Selama pelajaran berlangsung aku tak dapat berkonsentrasi. Semua seonsaengnim yang mengajar menegurku hari itu. Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Aku segera bergegas menuju keluar kelas tanpa memperdulikan tatapan heran dari teman-temanku. Aku langsung memacu motorku menuju rumah.
*****
Yae Ri’s POV
Aku benar-benar tak habis pikir dengan sikap Jungsu pada Dae Ah. Jung Soo babo! Dia benar-benar tidak peka pada perasaan Dae Ah. Dae Ah kau juga babo! Bagaimana bisa kau bertahan mencintainya selama 4 tahun! Dan mengapa selama itu kau tak pernah menyatakan cintamu!
Aku memutuskan menmui Jung Soo di rumahnya untuk meminta penjelasan.
Berkali-kali aku menekan bell, tak ada jawaban dari dalam. Tak lama seorang wanita paruh baya-ynag tak lain adalah ibu Jungsu-membukakan pintu.
“Oh, Yae Ri-ya... ada apa kau kemari?”
“anyeonghasseyo ahjuma... apakah Jung Soo ada?”
“Ada.. ayo masuk.” Ahjuma mengajakku masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam ahjuma menyuruhku langsung ke kamar Jungsu. Hubungan keluargaku dan keluarga Jung Soo memang sangat akrab Appa kami adalah rekan kerja.
Aku mengetuk pintu kamar Jung Soo ragu-ragu.
“Masuk saja. Pintunya tidak dikunci.” Teriaknya dari dalam kamar.
Aku membuka pintu dan kulihat dia sedang terbaring di ranjangnya.
“Park Jung Soo. Aku ingin bicara padamu.” Mendengar suaraku dia langsung bangkit dari posisi tidurnya.
“Ya! Apa yang kau lakukan disini?” pekiknya padaku.
“Aku kan sudah mengatakannya. Aku ingin membicarakan sesuatu padamu.” Jawabku sambil mengerucutkan bibirku.
“malhae...” jawabnya melunak.
Aku duduk disamping ranjangnya.
“Jung Soo-ya... apa yang membuatmu semarah itu pada Dea Ah?” aku berusaha mengutarakan pertanyaanku.
Kudengar dia menghela napasnya berat.
“Kim Dae Eun... So Ra-noona memutuskanku karena dia lebih suka pada Dae Eun-hyung, kakak Dae Ah.” Jelasnya padaku.
Mataku membulat sempurna mendengar jawabannya. Micheoseo! Bagaimana bisa dia marah hanya karena hal itu?!
“mwo? Jadi kau marah karena hal itu?!”
Jung Soo hanya memjawab pertanyaanku dengan sekali anggukan.
“Ya! Yang salah itu Han So Ra bukan Dae Eun-oppa!!!!” pekikku padanya.
“tetap saja! Mengapa Dae Eun-hyung mendekati So Ra-noona padahal dia tahu kalau So Ra-noona itu yeoja chingu-ku!”
Aiisshh... susah sekali menasehati anak ini!
“ya! Darimana Dae Eun-oppa tahu kalau So Ra itu pacarmu jika So Ra sendiri tak pernah mengakui kau pacarnya Park Jung Soo!” aku mulai emosi.
“kau tak tahu apa, Dae Ah sangat tersiksa jika melihatmu marah, sedih apalagi marah padanya!” aku berusaha mengontrol emosiku.
“molla! Aku tak peduli!” jawabnya tak menghiraukan perkataanku.
“Park Jung Soo! Kau tahu, Kim Dae Ah itu....” kalimatku terhenti.
Kau gila Choi Yae Ri. Kau sudah janji pada Dae Ah untuk tak membongkar rahasianya pada siapa pun apalagi Jung Soo.
“Kim Dae Ah mwo?” tanyanya penasaran.
“ah... ini sudah sore aku harus segera pulang.” Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aku seera bangkit adan berlari menuju keluar kamarnya. Namun langkahku terhenti oleh panggilan Yoon Ra, adik Jung Soo.
“Yae Ri-eonni.. kau mau pulang?” tanya Yoon Ra padaku.
“ne... Yoonra-ya...” kataku sambil berusaha tersenyum.
“kenpa kau tak minta Jung Soo-oppa mengantarmu. Ini sudah sore eonni...”
“ah... aniyo... tak perlu repot-repot, aku bisa pulang sendiri. Geuromyo, aku pulang dulu Yoon Ra-ya....”
“kalau begitu chalgayo...” Yoon Ra tersenyum padaku.
Aku bergegas keluar dari kediaman Park.
*****
Ini sudah lima hari, tapi hubungan Dae Ah dan Jung Soo tak kunjung membaik. Aku hampir frustasi membuat Jung Soo mengerti dengan keadaan.
Dae Ah masuk ke kelas dengan wajah pucat dan mata yang sembab. Aku yakin dia menangis semalaman.
“Dae Ah-ya... gwenchana?”
Dae Ah hanya menjawabku dengan senyuman. Dia selalu begitu jika dia tak dapat mengungkpkan kesedihannya-berpura-pura tersenyum pada dunia.
“Dae Ah-ya... mau kah kau datang ke rumahku sore ini?” ajakku padanya saat jam istirahat.
“untuk apa?” Dae Ah malah balik bertanya.
“kita refreshing saja... aku tahu ini pasti berat untukmu. Mungkin kita bisa melupakan masalahmu sejenak. Kita bisa mononton film, membuat kuae... atau apa saja. Klau bisa kau menginap saja di rumahku. Ini kan akhir pekan? Eotte?” Kataku sambil tersenyum padanya.
“kalaubegitu baiklah...” Dae Ah mengembangkan senyumnya. Kali ini senyumnya sedikit lebih ceria.
*****
Aku dan Dae Ah sedang berada di kamarku. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk.
“Yae Ri-ya... apa kau ada di dalam?” suara eomma dari luar kamar.
“ne, eomma....” aku bergegas membuka pintu.
“ah... ternyata Dae Ah sedang disini. Yasudah, kalian cepat turun. Keluarga Park Ajusshi sudah menunggu.” Apa? Park ajusshi?
“ne?” tanyaku heran.
“apa kau lupa Yae Ri-ya... malam ini ada acara makan malam keluarga..
Aigoo... aku benar-benar lupa. Aza... Dae Ah pasti senang bisa makan malam dengan Jung Soo.
“oh.. kalau begitu, Dae Ah kita turu....” Dae Ah hanya menjawabku dengan sekali anggukan kemudian bengkit dari duduknya.
Benar saja di meja makan sudah ada Ahjuma, Ajusshi, Yoon Ra dan Jung Soo.
“Anyeong Hasseyo... maaf aku terlambat, aku sedang ada tamu.” Kataku basa-basi.
“gwenchana....” jawab Ahjuma.
Kulihat perubahan ekspresi pada kedua sahabatku, Dae Ah dan Jung Soo.
Makan malam berlangsung dengan tenang. Hanya para orang tua yang sesekali berbincang.
Setelah selesai makan, tak satu pun yang angkat bicara. Kami diselimuti keheningan sampai Appa memulai percakapan.
“Yae Ri-ya... Jung Soo-ya.... aku dan Appa mu mengadakan makan malam ini untuk membicarakan sesuatu. Kami ingin menjodohkan kalian berduan.”
Mataku membulat sempurna saat mendengar perkataan Appa.
“mwo?” ucap Jung Soo yang sama kagetnya denganku.
“tapi jika kalian tidak setuju, kami akan MENUNDAnya terlebih dahulu sampai kalian setuju.” Lanjut apa yang sontak membuatku kaget. Aku refleks menoleh ke arah Dae Ah. Kulihat kepalanya tertunduk.
“Appa... sepertinya Dae Ah sudah mengantuk. Aku antar dia ke kamarku dulu ya...” aku berusaha setenang mungkin mengatakannya.
Appa hanya mengangguk megiyakan.
“Kaja Dae Ah-ya...!” aku langsun menarik tangannya menuju kamarku.
“Dae Ah-ya... kau diam dulu disini... akan kubereskan semuanya. Kau tenang saja.” Aku berusaha tersenyum untuk meyakinkan Dea Ah.
“Yae Ri-ya... “ dia berusaha memanggilku dengan suaranya yang parau.
Aku berusaha untuk tak menggubris panggilannya, karena aku tahu dia akan mencgahku. Aku terus berjalan menuju ruang makan. Ternyata semua orang sedang sibuk bersincang-bincang. Aku berdehem pelan agar mereka menyadari kehadiranku.
“oh, Yae Ri-ya... eotte? Bagaimana keputusanmu?” tanya Appa saat menyadari kehadiranku.
“emm.... Appa, bagaimana kalau aku dan Jung Soo membicarakan ini berdua. Tapi, jika kami tak setuju aku mohon kalian jangan memaksakan kehendak kalian, karena kamilah yang akan menjalani semua pada akhirnya.” Kataku berusaha meyakinkan semua orang yang ada di ruangan itu.
“baiklah... Appa akan mendukung keputusan kalian.” Jawab Appa pasrah.
“kalau begitu, Jung Soo... ikut aku ke halaman belakang sebentar.” Aku tersenyum ke arak Ajusshi dan Ahjuma.

Saat di halaman belakang aku mengumpulkan semua keberanianku untuk mengungkapkan segalanya.
“Ya! Choi Yae Ri! Apa kau benar-benar akan menolak perjodohan ini?!” tanya Jung Soo memecah keheningan.
“Geurom! Mana mungkin aku berkhianat pada temanku sendiri!” jawabku lantang.
“mwo? Aku tak mengerti maksudmu! Berkhianat pada temanmu? Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?!” emosi Jung Soo mulai tersulut.
Aku menghela napasku dalam-dalam
“Sebenarnya.... selama ini tepatnya selama empat tahun terakhir Dae Ah menaruh perasaan padamu Jung Soo-ya! Dae Ah sellu berusaha mencegahku untuk memberitahukannya padamu. Tapi kali ini keadaannya berbeda. Aku harus mengatakan semua ini sebelum terlambat. Jadi aku mohon jangan marah lagi pada Dae Ah. Kau tahu seberapa menderitanya dia saat tahu kau sedih? Dia akan sedih jika kau sedih, marah jika kau marah, dan senag jika kau senang. Dan bahkan Dae Ah meminta Dae eun-oppa putus dengan So Ra agar So Ra kembali padamu. Dia bahkan membujuk So Ra agar tak menyakitimu dan menganggapmu sebagai mainan Jung Soo-ya... jadi jebal.. jangan setujui pertunangan ini.”aku tak mampu lagi membendung air mataku dan mulai terisak.
Kulihat ekspresi Jung Soo berubah drastis.
“Choi Yae Ri, seandainya kau mengatakan ini padaku lebih awal, keadaannya tak akan seperti ini.” Jawabnya.
Aku tak mengrti apa yang ia katakan. Dia langsung menyeretku ke ruang makan.
*****
Dae Ah’s POV
Aku masih menangis di kamar Yae Ri. Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Hari-hariku benar-benar buruk akhir-akhir ini. Aku sudah lelah. Oppa... nan Eottokhae?
Aku berniat pulang saja sebelum hari semakin malam. Aku berjalanmenuju ruang makan. Disana keluarga Jung Soo dan Yae Ri sedang berkumpul namun aku tak bisa mnemukan Jung Soo ataupun Yae Ri.
Aku berpamitan pada semau orang di ruangan itu sebelum Jung Soo datang dengan senyum mengembang dan menggenggam tangan Yae Ri. Mataku membulat sempurna melihatnya. Namun aku berusaha menutupinya. Aku tersenyum pada mereka.
“Jung Soo-ya, Yae Ri-ya... aku harus pulang. Dae Eun Oppa datang dari Seoul.”kataku berbohong.
Aku segera berlalu dari ruang makan yang lebih terasa seperti neraka itu.
Aku masih bisa mendengar suara dari ruangan itu. Dan kalimat terakhir yang aku dengar adalah....
“Eomma... Appa...kami menyetujui.....” itu jelas suara Jung Soo
Aku berlari secepat yang aku bisa menuju pintu keluar.
*****
Author’s POV
Jung Soo menarik tangan Yae Ri ke ruang makan. Ternyata Dae Ah ada disana.
“Jung Soo-ya, Yae Ri-ya... aku harus pulang. Dae Eun Oppa datang dari Seoul.” Katanya yang kemudian berlalu.
Jung Soo angkat bicara.
“Eomma... Appa...kami menyetujui..... untuk tidak melakukan pertunangan ini...” ujar Jung Soo tegas.
“aku tahu ini pasti jawabanmu oppa!” Yoon Ra terkekeh mendengar jawaban Jung Soo.
Jung Soo mendelik tajam kearah adiknya.
“Jika ini keputusan kalian kami akan berusaha menyetujuinya. Kalian sudah dewasa, kalian pasti tahu apa yang baik untuk kalian.” Ujar Park Ajusshi bijak.
*****
Dae Ah’s POV
Harapanku benar-benar pupus. Sudahlah... kau tak perlu berkhayal lagi Kim Dae Ah!
Aku berangkat ke sekolah dengan perasaan tak menentu. Aku bingung bagaimana seharusnya sikapku pada Jung Soo dan Yae Ri. Jika aku mendiamkan mereka aku akan menyakiti perasaan mereka terutama Yae Ri. Jika aku berusaha Ceria berarti aku membohongi perasaanku sendiri. Molla... ita lihat sakja nanti.
Aku masuk ke kelas dengan kepala pening. Selama jam pelajaran aku tak bisa berknsentrasi. Akhirnya bel istirahat berdering. Setidaknya aku bisa melemaskan otot leherku.
Semua orang sudah keuar kelas. Aku merebahkan kepalaku diatas meja kemudian Yae Ri menghampiriku.
“Dae Ah-yaa...” panggilnya dengan nada manja seperti biasanya.
“emmm...” hanya itu jawabanku.
“kau marah padaku?” tanyanya.
“ahni... aku hanya bingung...”
Aku mulai memejamkan mataku, berharapsakit kepalaku berkurang.
“Dae Ah-ya... kenapa kau mendiamkanku seperti ini?” tanyanya pelan
“Aku tak mendiamkanmu... aku hanya sedang tak ingin bicara.” Jawabku masih dengan mata tertutup.
Kurasakan Yae Ri mulai membelai rambutku. Ini kebiasaannya saat aku sedih ata sakit.
“Yae Ri-ya... kau tahu?” tanyaku padanya.
Tak ada jawaban darinya.
Aku menahan tangannya yang sedang mengelus rambutku.
“nan jeongmal Jung Soo saranghae... aku tak bisa berhenti mencintainya Yae Ri-ya....” kataku maih dengan mata tertutup.
Air mataku tak dapat kubendung lagi. Aku menangis. Baru kali ini aku menangis di sekolah.
*****
Author’s POV
“Dae Ah-ya... kenapa kau mendiamkanku seperti ini?” tanya Yae Ri pelan
“Aku tak mendiamkanmu... aku hanya sedang tak ingin bicara.” Jawab Dae Ah dengan mata tertutup dan kepala terkulai di meja.
Yae Ri mulai membelai rambut Dae Ah. Ini kebiasaannya saat Dae Ah sedih ata sakit.
Tanpa mereka sadari Jung Soo tengah memperhatikan mereka. Jung soo menghampiri Yae Ri dan mengisyaratkan untuk bertukar posisi dengannya. Kini Jung Soo-lah yang membelai rambut Dae Ah.
“Yae Ri-ya... kau tahu?” tanya Dae Ah.
Tak ada jawaba.
Dae Ah menahan tangan yang sedang mengelus rambutnya.
“nan jeongmal Jung Soo saranghae... aku tak bisa berhenti mencintainya Yae Ri-ya....” Ujar Dae Ah maih dengan mata tertutup. Ia tak tahu bahwa yang disebelahnya saat ini adalah Jung Soo.
Meskipun wajanya tertutup Jung Soo dapat mengetahui bahwa Dae Ah menangis saat ini.
“Lain kali katakan semuanya padaku Dae Ah-ya... jangan hanya katakan ini pada Yae Ri...” Jung Soo tersenyum.
Dae Ah yang menyadari bahwa itu suara Jung Soo langsung bangkit dari posisinya. Disampingnya terlihat Yae Ri berdiri dan Jung Soo duduk. Matanya membulat sempurna melihat hal itu. Yae Ri terkekeh pelan melihat ekspresi sahabatnya.
“ya...sejak kapan kau disini...” tanya Dae Ah heran.
“sejak kau mengatakan kau benar-benar mencintaiku.” Jung Soo meledek.
Sekarang wajah Dae Ah benar-benar merah padam. Dae Ah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Waeyo? Kau malu? Eoh?” Ucap Jung Soo sambil menarik Dae Ah kedalam pelukannya.
“shalshireun... nado saranghae.... Kim Dae Ah...”
*****
The Day Before
“Eonni... yang tai itu Dae Ah eonni ya?” tanya Yoon Ra pada Yae Ri setelah acara makan malam selesai.
“eoh... eottokhae arrasseeo?” tanya Yae Ri bingung.
“tentu saja.... Oppa sering bercerita padaku tentangnya. Katanya jika sudah besar nanti aku harus seperti Dae Ah-eonni... Oppa bahkan punya satu album foto-foto Dae Ah-onni... dan setahuku album itu masih disimpannya” papar Yoon Ra
“mwo?! Jeongmal?” mata Yae Ri membulat sempurna mendengarnya.
“tentu saja... jika kau main ke rumahku akan aku tunjukkan album itu. Dan aku pernah mendengar Jung Soo-oppa bercerita pada In Young-eonni bahwa cinta pertama Jung Soo-oppa adalah Dae Ah-eonni, namun karena waktu itu Jung Soo-oppa masih pemalu jadi oppa tak berani mengungkapkannya pada orang lain.”


Forgotten Love (part 2/2)

main cast:

  • Lee Donghae
  • Lee Hyukjae
  • Kim Saera
  • Shim Chaerin
sekali lagi ini FF pertama aku, jadi mohon maaf kalo ceritanya gak jelas.
WARNING! typooooo!!!
 
Comment membangun sangat diharapkan.

Author’s POV
Sera masih terduduk sambil terus memijat kakinya yang terasa sangat sakit. Untuk apa aku punya kaki kalau tak bisa kugunakan dengan baik, batinnya.
Sera baru menyadari Hyukjae sedang memperhatikannya saat dia menoleh ke arah pintu. Sera berusaha menyeka air matanya.
“Sera-ya...” ucap Hyukjae pelan.
“Oppa... ada apa kau kemari?”
“Sera-ya mianhae...” Hyukjae berkari dan merengkuh tubuh Sera
“Oppa... wae?” tanya Sera kebingungan.
“Sera-ya... aku ingat semuanya. Maafkan keegoisanku Sera-ya...” kini Hyukjae menangis sambil terus mempererat pelukannya pada Sera.
“Syukurlah jika kau sudah ingat Oppa... kau tak perlu minta maaf karena tak ada yang harus dimaafkan.” Sera membalas pelukan Hyukjae.
Mereka betah berlama-lama dalam suasana ini. Tak satupun dari mereka mau melepaskan pelukannya sampai peut Hyukjae brsuara minta diisi.
Hyukjae mengendurkan pelukannya dan Sera memandangnya penuh tanya.
“Kau pasti lapar Oppa...”
“Ah... ne. Aish.. kenapa perutku harus berteriak disaat seperti ini?”
Sera tertawa pelan.
“Aku akan buatkan makanan untukmu.” Sera berusaha berdiri namun kakinya masih terasa sakit sampai dia tak mampu menopang tubuhnya dan terjatuh diatas pangkuan Hyukjae.
Hyukjae tersenyum pada Sera. Wajah Sera kini merah padam karena malu.
“Sudahlah kau tidur saja putri kecil.” Hyukjae tersenyum.
Sera terkekeh mendengar sebutab “putri kecil” sebutan itulah yang ia rindukan. Hyukjae selalu memanggilnya begitu dulu.
*****
Semakin hari hubungan Hyukjae dan Sera semakin membaik. Lee Ajushi dan Lee Ajhuma bahagia melihat mereka berdua akur. Namun tidak dengan Donghae.
Donghae telah berhasil meneruskan sekolahnya sampai tingkat S1. Dan Hyukjae masih berkutat dengan dunia seni tari dan melanjutkan sekolahnya hingga S2.
“Donghae-oppa, chukhae...” Sera membuka percakapan saat makan malam itu.
“Gomapta Sera-ya... selamat juga untukmu karena kau berhasil masuk universitasyang kau inginkan.”
“Ah... itu semua juga karena bantuan kalian semua. Aku sangat berterimakasih atas kebaikan Eommonib dan Abonim.”
“Itu bukan apa-apa Sera-ya.....” Lee Ajhuma merendah.
“Kapan kau mulai masuk kuliah?” tanya Lee Ajushi.
“Aku baru mulai kuliahku minggu depan tapi Hyukjae-oppa mengajakku untuk berkeliling kampus besok. betul ‘kan, Oppa?”
“mmh....” Hyukjae menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan.
*****
Sera’s POV
Senang sekali rasanya bisa kembali akur dengan Hyukjae-oppa. Dan sekarang aku berjalan beriringan dengannya mengitari kampus yang akan jadi tempatku menimba ilmu.
“Oppa... kau yakin akan terus menari dengan kakimu yang seperti itu?”
“Entahlah. Aku mulai memikirkan untuk pindah ke jurusan lain.”
“Oppa... itu semua karena Appa ku. Maafkan aku Oppa...”
“Bukan Sera-ya... ini semua memang takdir.”
Sebuah suara memecah kesunyian diantara kami. Seorang yeoja berlari menghampiri kami.
 “Anyeong Hyukjae-ya.” sapanya ramah.
“Anyeong... Chaerin-a.”
Orang yang dipanggil Chaerin itu kini tengah bergelayut manja di tangan Hyukjae-oppa.
“Ah... Chaerin-a, perkenalkan, ini Kim Sera, dia dongsaengku.”
“Dongsaeng?” yeoja itu mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Bukannya Dongsaengmu itu hanya Donghae?”
“Ah... ceritanya panjang chagi... pokoknya dia itu sudah kuanggap seperti dongsaengku sendiri.”
“Ah... Arraseo. Tapi kau harus menceritakannya padaku, semuanya, tanpa melupakan satu detail pun! Arrachi?”
“Ne... ne... ah, Sera-ya... perkenalkan, ini Shim Chaerin, tunanganku.”
“Shim Chaerin imnida. Banggabseumnida.” Dia menjulurkan tangannya
“Ne, Kim Sera imnida....” kataku menjabat tangannya.
“kau boleh memanggilku Eonni kalua kau mau.” Katanya sambil tersenyum bangga (?)
“Ah, ne Eonni...” aku berusaha mengatur emosiku yang sejak tadi-sejak kedatangannya-menjadi tak menentu.
“Sera-ya... kau bisa pulang sendiri kan?” Hyukjae-oppa menyadarkanku dari pikiranku yang sedang melayang kesana-kemari.
“Sera-ya...”
“Ne? Ah, ne oppa...” balasku lemas.
“Baiklah... kau akan langsung pulang ke rumah kan?”
“ne...”
“Tolong sampaikan pada Eomma, aku akan mengajak Chaerin pulang saat makan malam nanti.” Hyukjae-oppa terlihat bersemangat.
“kalu begitu aku pulang dulu oppa...” aku berusaha tersenyum, mungkin senyumku ini akan terlihat aneh
“Hati-hati Sera-ya...” kini Chaerin-eonni yang berusaha ramah.
Aku meninggalkan kampus dengan langkah tergesa-gesa... rasanya mataku mulai memanas namun aku berusaha untuk tidak menangis. Tunangan? Dan aku dongsaengnya? Seenaknya saja dia mengatakan kalau aku dongsaengnya... padahal aku tak mengharapkan ini terjadi. Bodohnya aku tak menyadari keberadaan cincin di jari manis Hyukjae-oppa... pertahanannku ambruk... mataku mulai mengalirkan tetesan-tetesan bening yang mulai menganak sungai di pipiku.

Sesampainya di rumah Lee Ajhuma mengajakku makan siang bersama. Aku duduk di sebelah Donghae-oppa. Aku membuka percakapan dengan menyampaikan pesan Hyukjae-oppa...
“Ajhuma, ani, maksudku Eommonim, tadi Hyukja-oppa bilang kalau dia akan mengajak Chaerin-eonni makan malam disini.”
“Jeongmal...? ah... anak ini tak pernah mengkonfirmasikan segalanya langsung padaku. Kau sudah tahu hubungan mereka Sera-ya?”
“Ne.... tadi Oppa sudah menjelaskannya padaku.”
“Ah.. Hyukjae memang pandai memilih pasangan. Aku sangat suka pada Chaerin, menurutmu bagaimana Sera-ya?”
Menyukainya.... aku berusaha mengontrol emosiku tapi bisa kurasakan air mata mulai menggenng di pelupuk mataku dan membuat pandanganku mengbur.
“Ah... dia cantik Eom-monim...” suaraku tercekat.
Donghae-oppa sepertinya menyadari perubahan air mukaku.
“Ah... tapi kau tak kalah cantik Sera-ya....” sepertinya Donghae-oppa berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“tentu saja.... Sera itu sangat mirip ibunya. Kau ingat Hae-ya...?”
“ne... Eomma... mata Sera sama persis dengan mata Kim Ajhuma.” Donghae-oppa menatapku dalam. Namun aku tak menggubrisnya.
“Setelah ini kalian antar Eomma belanja ya? Eomma ingin memasak makanan favorit Chaerin.”
“Ne... Eom-ma...” jawabku terbata-bata. Aku menyebutnya Eomma. Hal itu membuat Lee Ajhuma dan Donghae mendongkakkan kepalanya ke arahku.
“Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?” tanyaku sambil tersenyum ragu.
“haha... tentu saja boleh!” Lee Ajhuma dan Donghae mulai menertawakanku, dan Aku tahu mukaku sudah semerah tomat sekarang.

Lee Ajhuma sedang memilah-milah sayuran dan meninggalkan aku dan Donghae dengan troley yang terisi setengahnya. Mungkin Donghae-oppa menyadari kalau aku terlihat lebih murung.
“Sera-ya... gwenchana?” tanya Donghae-oppa membuyarkan lamunanku.
“Gwenchana oppa...” suaraku mungkin lebih terdengar seperti berbisik ketimbang bicara.
“sudahlah... kau tak usah berbohong padaku...”
“kalu kau tahu kenapa kau masih bertanya?” aku cemberut.
“Akuhanya ingin memastikan, apakah kau masih suka berbohong padaku.” Donghae-oppa mengacak poniku pelan.
Aku berusaha tersnyum.
“Kaja! Aku sudah selesai.” Lee ajhuma menghampiri kami dengan beberapa sayuran dan sekotak daging.

Aku berjalan berdampingan dengan donghae-oppa sedangkan Lee Ajhuma berjalan di depan kami. Donghae-oppa memasukkan belanjaan ke bagasi mobil.
“OMO! Aku lupa sesuatu. Kalian tunggu disini. Eomma akan segera kembali.” Lee Ajhuma berlari masuk ke dalam supermarket meninggalkan kami berdua lagi.
Aku berjalan-jalan mengitari mobil dan.....
Aku melihat sebuah mobil yang tak asing di mataku. Mobil Hyukjae-oppa. Dan di dalamnya dua insan tengah mencumbu asmara. Mereka tengah berciuman. Mataku mulai memanas. Air mataku mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi. Kurasakan seseorang membalikan badanku sehingga dua insan itu menghilang dari pandanganku. Donghae-oppa. Dia membenamkan kepalaku diatas dadanya yang bidang.
“pemandangan jelek begitu tak usah dilihat Sera-ya...” Donghae-oppa berusaha menghiburku.
“aku sudah melihatnya oppa... aku melihatnya....” aku mulai terisak.
“sudahlah... anggap saja itu hanya imajinasimu.” Donghae-oppa terus menghiburku. Tangisanku tak bisa berhenti. Hal ini membuat Donghae-oppa semakin erat memelukku. Sampai Lee Ajhuma datang.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Lee Ajhuma kaget.
“Kaki Sera terlindas roda troley eomma... makanya dia menangis.” Jawab Donghae-oppa asal.
“Sera-ya... gwenchana?” tanya Lee Ajhuma khawatir.
“Gwenchana eomma...” aku terpaksa menyunggingkan senyum agar Lee Ajhuma tidak megoceh.
Perjalanan menuju rumah hanya diisi deheman tanpa ada yang bicara sedikitpun.
*****
Author’s POV
Acara makan malam bersama Chaerin akan segera dimulai karena sang bintang utama: Chaerin sudah datang. Kedatangan Chaerin disambut ramah oleh keluarga Lee. Tapi tidak dengan peranakan Kim yang menyelip diantara mereka. Sera masih berusaha tersenyum meskipun ribuan benda tajam serasa menghujam jantungnya. Apalagi ketika melihat Lee Ajhuma sangat senang dengan kedatangan Chaerin.
“Omo... Chaerin-a... kau terlihat makin cantik saja!” Ahjuma menyambut Chaerin dengan pelukannya.
“ah... Eomoni, kau bisa saja.” Jawab chaerin dengan wajah bersemu.
“Kajja Chaerin-a, Eomma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.” Ajak Ahjuma.
Semua orang berlalu menuju ruang makan tanpa menyadari perubahan ekspresi Sera. Hanya saja Donghae. Mungkin Donghae menyadari perubahan air muka Sera.
Donghae menarik tangan Sera yang sedang berjalan hingga Sera memutar kepalanya.
“Saera-ya... gwenchana?” tanya Donghae khawatir.
Taka ada jawaban dari Sera hanya senyuman yang terkesan dipaksakan tersungging di bibirnya.
Donghae kemudian menggenggam tangan Saera dan menariknya menuju ruang makan. Donghae membuat Saera duduk disampingnya dan berhadapan dengan Chaerin dan Hyukjae. Sedangkan Ahjuma tak henti-hentinya memuji Chaerin.
“Eomma... aku sudah lapar lebih baik kita mulai makan.” Suara Donghae menyadarkan Eommanya yang seperti tak menyadari ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan Chaerin.
Sera menoleh kearah Donghae dan tersenyum. Senyumannya sepetri berkata terimakasih pada Donghae.
“Aigoo... maafkan eomma Hae-ya... aku sudah sangat rindu pada Chaerin. Jadi aku ingin bicara banyak dengannya.”
Acara makan malam keluarga ini pun brlangsung dengan tenang. Sesekali Lee Ajusshi berbicara pada Hyukjae atau Donghae sedangkan Eomma hanya berbicara pada Chaerin dan lupa bahwa di ruangan iti ada Sera. Jadilah Sera makan dengan kepala tertunduk dan sesekali menatap nanar pada pasangan didepannya yang sesekali bercanda.
“Eomma, Appa, aku ingin segera menikah dengan Chaerin.”
*****
Donghae’s POV
“Eomma, Appa, aku ingin segera menikah dengan Chaerin.”  Hyukjae-hyung membuka pembicaraan setelah makan malam selesai.
Aku langsung menoleh pada Sera. Kulihat wajahnya. Sepertinya dia shock. Kugenggam tangannya berharap bisa memberi kekuatan padanya. Sera menoleh padaku dengan tatapan yang mengkhawatirkan.
“Eomma, aku dan Sera ke atas dulu, tadi siang aku janji pada Sera untuk menunjukkan koleksi fotoku.” Kataku berbohong.
Aku tak mau air matanya tumpah disini.
“Kajja Sera-ya..” ajakku sambil menarik tangannya.
Dia tak mengiyakan ataupun menolak. Dia hanya mengikuti tangannya yang kutarik.
Sesampainya di lantai dua Sera hanya mematung.
“benarkah semua ini?” akhirnya kata-kata itu yang meluncur dari bibirnya.
Dia mengangkat tangannya dan mulai menampar-nampar pipinya.
“Sera-ya.. apa yang kau lakukan?” aku berusaha menahan tangannya.
“lepaskan tanganku-oppa! Ini tidaik sakit! Ini pasti mimpi!!!” Sera berusaha melepaskan genggaman tanganku. Tapi aku berusaha agar tangannya tak lepas.
Akhirnya aku memeluknya dengan erat agar ia tak meneruskan tingkah gilanya. Tubuhnya yang ramping memudahkanku untuk menguncinya dalam pelukanku.
“lepaskan aku oppa... lepaskan aku...” dia meronta-ronta sampai akhirnya tubuhnya melemas dan dia mulai menangis dalam pelukanku.
“Tenang Sera-ya... aku masih disini untukmu.” Aku berusaha menenangkannya.
Kubawa tubuhnya kekamarnya. Aku takut tangisannya terdengar sampai ke lantai dasar.
Kududukan dia di pinggir ranjangnya. Dia masih menangis. Tangisannya membuat telingaku sakit. Semakin lama suara tangisannya semakin melemah. Kulonggarkan pelukanku dan kulihat Sera sudah tertidur tapi nafasnya masih tak beraturan. Kubaringkan tubuhnya dan kuselimuti tubuhnya sampai menutupi lehernya. Setelah kupastikan dia tertidur pulas aku beranjak menuju pintu untuk keluar. Namun aku mendengar suara seperti bisikan
“oppa.... oppa... kajima oppa!”
Kubalukan tubuhku dan kembali mendekatinya. Ternyata dia mengigau. Mungkin hari ini terlalu melelahkan untuknya.
Kusingkirkan peluh yang membasahi keningnya dan kukecup keningnya.
“Chalja Kim Sera.” Kataku sebelum menutup pintu kamar.
*****
Sera’s POV
Kubuka mataku seiring dengan suara alarm dari handphone-ku. Badanku terasa pegal dan kepalaku terasa pusing. Kulangkahkan kakiku kekamar mandi. Kulihat pantulan diriku di cermin. Mataku terlihat sembab.
Badanku terasa lebih segar setelah mandi. Tapi tidak dengan hatiku. Aku tak mau terlambat jadi aku putuskan untuk keluar walaupun moodku masih tak cukup baik.
Kulihat Hyukjae-oppa tidur di sofa di ruang keluarga di lantai dua. Kuberanikan diri untuk membangunkannya.
“oppa.... oppa... ireona...” kutepuk pipinya dan kulihat dia mulai membuka matanya.
“ah... Sera-ya... kau sudah bangun?”
“ne... oppa... kenapa kau tidur diluar?”
“mmhh... Chaerin tidur dikamarku jadi aku tidur diluar. Semalam eomma menyuruhnya menginap.”
DEG
Sedekat itukah hubungan Eomma dengan Chaerin-eonni?
“aah... a-ku duluan Oppa...” suaraku terbata-bata.
Aku bergegas mengambil tasku dan pergi keluar rumah.
Aku berjalan diatas trotoar tanpa peduli kemana kakiku melangkah. Namun langkahku terhenti saat sesosok namja berdiri dihadapanku. Aku mendongkakkan kepala dan kulihat sorot mata teduhnya. Mata Donghae-oppa.
“Oppa....”
“kau mau kemana putri kecil?” Kenapa dia memanggilku seperti itu?
“aku mau ke... kampus.” Jawabku berbohong.
“ahni.... aku tau kau melamun sejak tadi. Kalau kau mau ke kampus harusnya kau berjalan kesana.” Donghae-oppa menunjukkan arah yang berlawanan dengan arah aku berjalan.
Aissh... kenapa kau bodoh Kim Sera.
“ah.. ne...” akhirnya kuputuskan untuk berbalik arah. Tapi sebuah tangan menarik bahuku.
“lebih baik kau bolos hari ini. Karena kau tak akan bisa fokus dengan mood seperti ini.” Apa maksudnya?*****
Donghae’s POV
aku tak bisa tidur semalaman karena memikirkan nasib gadis itu. bagaimana bisa Hyukjae-hyung melupakan janjinya pada Sera. aku putuskan untuk melihat kondisinya. saat aku keluar kamar kulihat dia tengah berbicara dengan Hyukjaehyung di ruang keluarga.
“mmhh... Chaerin tidur dikamarku jadi aku tidur diluar. Semalam eomma menyuruhnya menginap.” hyukjae-hyung menjelaskan pada Sera.
aisssh... hyung, bisakah kau tak menyakiti hatinya sekali saja. kulihat perubahan ekspresinya. dia kembali ke kamarnya dan mengambil tasnya kemudian berlari menuruni tangga. aku ikuti langkahnya yang semakin cepat.
“Sera-ya...” panggilku. Tapi dia tak mendengarnya.
dia berlari keluar dari rumah. aku terus mengikutinya. ini sudah terlalu jauh. kemana dia akan pergi? akhirnya aku mendahuluinya dan kemudian berdiri di hadapannya. langkahnya terhenti ketika melihat ujung sepatuku.
“Oppa....” panggilnya
“kau mau kemana putri kecil?” aku mengikuti gaya Hyukjae-hyung jika sedang merayunya dulu.
“aku mau ke... kampus.” Jawabnya berbohong.
“ahni.... aku tau kau melamun sejak tadi. Kalau kau mau ke kampus harusnya kau berjalan kesana.” aku menunjukkan arah yang berlawanan dengan arahnya berjalan.
dia menundukkan kepalanya
“ah.. ne...” dia berbalik arah. Tapi segera kutahan dengan menarik bahunya.
“lebih baik kau bolos hari ini. Karena kau tak akan bisa fokus dengan mood seperti ini.”
“ne?” tanyanya kaget.
“Kaja... kita ambil mobilku dulu.” kataku sambil menarik tangannya.
“Oppa... aku menunggu disini saja.”
“ahni.. aku takut kau kabur.” aku menarik tangannya menuju rumah.
*****
“kenapa kau membawaku kesini-oppa?” tanyanya saat kami tiba di Everland.
“hari ini aku akan membuatmu tersenyum sampai gila.”
dia terkekeh mendengar ucapanku. akhirnya dia tersenyum, itu membuat hatiku sedikit lega.
kami menaiki semua wahana disini. dan kulihat dia bisa tersenyum, berteriak dan bahkan tertawa.
selama mengitari tempat ini aku tak mau melepaskan genggaman tanganku dari tangannya. aku takut dia pergi dariku. aku takut dia nekat kabur.
“oppa...” suaranya parau, ekspresinya kembali seperti tadi malam.
“ne?” tanyaku.
“hyukjae-oppa...” suaranya semakin parau.
“sera-ya kau kenapa?” tanyaku saat aku lihat genangan air mata di pelupuk matanya. aku mengikuti arah matanya menatap. kulihat Hyukjae-hyung dan Chaerin sedang bermesraan.
aiiisshh... Lee Hyukjae, kenapa kau tak pernah bisa berhenti menyakiti hatinya.
Sera melepaskan tangannya dari genggaman tanganku. dia berlari menuju pintu keluar.
“Sera-ya...” teriakku. namun dia tak menggubris panggilanku. dia terus berlari. dan sialnya langkahku tertahan saat para bedut melintas. aku kehilangan dia. Kim Sera. sebesar itukah rasa cintamu pada hyungku?
*****
Sera’s POV
aku terus berlari. tak kugubris teriakan Donghae-oppa. aku memtuskan untuk kembali ke rumah.
aku sudah memegang sebuah cutter ditanganku. ternyata rasa sakit hatiku mengalahkan akal sehatku. pertama Eomma, kemudian Appa... orang-orang yang kucintai meninggalkanku begitu saja. dan sekarang harapan terakhirku, Hyukjae-oppa juga meninggalkanku. jadi untuk apa aku hidp di dunia ini?
kudengar suara mobil terparkir di garasi. mungkin Donghae-oppa. buru-buru aku sayat pergelangan tanganku. darah segar terus mengucur seanyak air mataku yang terus meleleh. aku tak sanggup lagi berdiri. pandanganku semakin mengabur.
*****Donghae’s POV
“Sera-ya...” aku berlari menuju lantai dua setelah memarkirkan mobilku.
aku berlari menuju kamarnya kuketuk pintunya. tak ada jawaban. sudah 15 menit. masih tak ada suara dari dalam.
“Kim Sera... cepat buka pintunya. atau kudobrak pintu kamarmu.” tetap tak ada jawaban.
“baiklah jika kau memaksa. hana.... dul.... set...” kudobrak pintu kamarnya.
kulihat tubuhnya yang mungil tergeletak di lantai dengan tangan bersimbah darah. dan sebuah cutter ditangannya.
“KIM SERA!”
aku ikat pergelangan tangannya dengan saputanganku.
aku tak menyangka dia senekat ini. aku segera menggendong tubuhnya menuju mobil. saat di tangga Eomma melihatku kemudian menghampiriku.
“OMO! Donghae-ya dia kenapa?” Eomma terlihat shock melihat kondisi Sera.
“Molla... eomma... kau ikut aku ke rumah sakit!”
“Arraseo....” eomma berlari dibelakangku.
aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi. aku hanya memikirkan keselamatan anak ini. sesekali kulihat keadaannya yang duduk dengan Eomma di kursi belakang lewat kaca spion.
“Kim Sera... bertahanlah” gumamku pelan.
*****
Author’s POV
sudah tiga hari Sera terbaring dirumah sakit. namun dirinya tak kunjung sadar. dokter berkata bahwa stress yang dialaminya membuat dia malas untuk membuka matanya. sedangkan Donghae, namja itu selalu menunggunya untuk bangun. bahkan dia tak memperdulikan kondisinya sendiri.
Dream...
Sera’s POV
aku membuka mataku dan aku berada di sebuah ladang bunga matahari yang sangat indah.
“Sera-ya...” suara itu membuatku membalikan tubuhku.
“Eomma....” aku menghambur ke pelukkannya.
“Eomma apa kita sudah di surga?” tanyaku pada eomma. namun eomma menggelengkan kepala menjawab pertanyaanku.
“ahni... Sera-ya... aku kesini untuk membangunkanmu.”
aku mengerutkan dahiku saat mendengar jawaban Eomma.
“tapi aku tak mau bangun eomma. aku ingin disini saja. dunia itu terlalu menyakitkan. tak ada lagi alasan bagiku untuk kembali kesana.”
“sudah kuduga. Sera-ya... jangan pernah memandang sbelah mata. kenapa hanya memperdulikan perasaanmu tanpa memperdulikan perasaan orang disekitarmu? kau sangat egois Sera-ya... apa kau lupa kalau eomma mengajarimu untuk peduli pada semua orang?”
eomma mengusap puncak kepalaku. aku menundukkan kepalaku karena malu.
“kau tau, orang yang mencintaimu sedang menunggumu sekarang.” aku mendongkakkan kepala mendengar ucapan eomma.
“jinca? nugu? siapa orang yang mencintaiku itu eomma?” tanyaku bersemangat.
“kau akan segera tahu jika kau bangun. jadi cepatlah bangun sayang. jangan biarkan dia menunggu terlalu lama.” eomma tersenyum padaku. aku kemudian memeluknya erat. sangat erat karena aku tak mau kehilangannya.
end of  dream
Author’s POV
Sera mengerjapkan matanya, berusaha membukanya. bau obat-obatan memenuhi rongga pernapasannya. tangannya yang berada dalam genggaman Donghae bergerak membuat Donghae mendongkakkan kepalanya.
“Sera-ya... kau sudah sadar?” tanya Donghae bersemangat.
sera hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Syukurlah... aku akan memanggil dokter. tunggu sebentar Sera-ya.”
sebelum Donghae beranjak, Sera buru-buru menarik tangan Donghae.
“Oppa.... apa kau mencintaiku?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Sera.
“Ne?” Donghae berusaha membuat Sera mengulangi pertanyaannya.
“Apa kau mencintaiku?” tanya sera sekali lagi.
“Tentu saja Sera-ya. aku mencintaimu sampai kapan pun. aku kan pernah mengatakannya padamu.” Donghae menjawab pertanyaan Sera dengan yakin.
mata Sera terlihat berbinar.
“kalau begitu.... oppa, maukah kau mengajariku untuk mencintaimu?”
“ne?” Donghae tak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Oppa... kenapa kau selalu membuatku mengulangi pertanyaanku? ajari aku untuk mencintaimu jika kau benar-benar mencintaiku oppa...” Sera memperjelas ucapannya.
Donghae memeluk tubuk Sera yang berusaha duduk.
“Pasti... aku berjanji akan membuatmu cinta padaku Kim Sera. Saranghae....” bisik Donghae di telinga Sera.
Air mata bahagia membanjiri pipi mereka.
*****
Epilog
Donghae’s POV
hari ini Hyungku menikah dengan Chaerin. aku dan Sera duduk di jajaran paling depan. kali ini bibir Sera tersungging melihat Hyung dan Chaerin bersanding di depan altar. saat Hyukjae Hyung memasangkan cincin di jari manis Chaerin aku meliri ke arah Sera dan kemudian melihat cincin yang telah melingkar di jari kami. Sera tersenyum kearahku dan mendekatkan bibirnya ke arah telingaku.
“Oppa... kapan kita menyusul mereka?”
pertanyaannya membuat mataku membulat.
“Segera” jawabku berbisik ke arahnya.
Kim Sera... aku sudah menepati janjiku padamu. jadi jangan pernah pergi dari sisiku.
*****
mian kalo ending-nya gaje. pengen cepet-cepet selesai abisnya... :D