Senin, 17 September 2012

Forgotten Love (part 2/2)

main cast:

  • Lee Donghae
  • Lee Hyukjae
  • Kim Saera
  • Shim Chaerin
sekali lagi ini FF pertama aku, jadi mohon maaf kalo ceritanya gak jelas.
WARNING! typooooo!!!
 
Comment membangun sangat diharapkan.

Author’s POV
Sera masih terduduk sambil terus memijat kakinya yang terasa sangat sakit. Untuk apa aku punya kaki kalau tak bisa kugunakan dengan baik, batinnya.
Sera baru menyadari Hyukjae sedang memperhatikannya saat dia menoleh ke arah pintu. Sera berusaha menyeka air matanya.
“Sera-ya...” ucap Hyukjae pelan.
“Oppa... ada apa kau kemari?”
“Sera-ya mianhae...” Hyukjae berkari dan merengkuh tubuh Sera
“Oppa... wae?” tanya Sera kebingungan.
“Sera-ya... aku ingat semuanya. Maafkan keegoisanku Sera-ya...” kini Hyukjae menangis sambil terus mempererat pelukannya pada Sera.
“Syukurlah jika kau sudah ingat Oppa... kau tak perlu minta maaf karena tak ada yang harus dimaafkan.” Sera membalas pelukan Hyukjae.
Mereka betah berlama-lama dalam suasana ini. Tak satupun dari mereka mau melepaskan pelukannya sampai peut Hyukjae brsuara minta diisi.
Hyukjae mengendurkan pelukannya dan Sera memandangnya penuh tanya.
“Kau pasti lapar Oppa...”
“Ah... ne. Aish.. kenapa perutku harus berteriak disaat seperti ini?”
Sera tertawa pelan.
“Aku akan buatkan makanan untukmu.” Sera berusaha berdiri namun kakinya masih terasa sakit sampai dia tak mampu menopang tubuhnya dan terjatuh diatas pangkuan Hyukjae.
Hyukjae tersenyum pada Sera. Wajah Sera kini merah padam karena malu.
“Sudahlah kau tidur saja putri kecil.” Hyukjae tersenyum.
Sera terkekeh mendengar sebutab “putri kecil” sebutan itulah yang ia rindukan. Hyukjae selalu memanggilnya begitu dulu.
*****
Semakin hari hubungan Hyukjae dan Sera semakin membaik. Lee Ajushi dan Lee Ajhuma bahagia melihat mereka berdua akur. Namun tidak dengan Donghae.
Donghae telah berhasil meneruskan sekolahnya sampai tingkat S1. Dan Hyukjae masih berkutat dengan dunia seni tari dan melanjutkan sekolahnya hingga S2.
“Donghae-oppa, chukhae...” Sera membuka percakapan saat makan malam itu.
“Gomapta Sera-ya... selamat juga untukmu karena kau berhasil masuk universitasyang kau inginkan.”
“Ah... itu semua juga karena bantuan kalian semua. Aku sangat berterimakasih atas kebaikan Eommonib dan Abonim.”
“Itu bukan apa-apa Sera-ya.....” Lee Ajhuma merendah.
“Kapan kau mulai masuk kuliah?” tanya Lee Ajushi.
“Aku baru mulai kuliahku minggu depan tapi Hyukjae-oppa mengajakku untuk berkeliling kampus besok. betul ‘kan, Oppa?”
“mmh....” Hyukjae menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan.
*****
Sera’s POV
Senang sekali rasanya bisa kembali akur dengan Hyukjae-oppa. Dan sekarang aku berjalan beriringan dengannya mengitari kampus yang akan jadi tempatku menimba ilmu.
“Oppa... kau yakin akan terus menari dengan kakimu yang seperti itu?”
“Entahlah. Aku mulai memikirkan untuk pindah ke jurusan lain.”
“Oppa... itu semua karena Appa ku. Maafkan aku Oppa...”
“Bukan Sera-ya... ini semua memang takdir.”
Sebuah suara memecah kesunyian diantara kami. Seorang yeoja berlari menghampiri kami.
 “Anyeong Hyukjae-ya.” sapanya ramah.
“Anyeong... Chaerin-a.”
Orang yang dipanggil Chaerin itu kini tengah bergelayut manja di tangan Hyukjae-oppa.
“Ah... Chaerin-a, perkenalkan, ini Kim Sera, dia dongsaengku.”
“Dongsaeng?” yeoja itu mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Bukannya Dongsaengmu itu hanya Donghae?”
“Ah... ceritanya panjang chagi... pokoknya dia itu sudah kuanggap seperti dongsaengku sendiri.”
“Ah... Arraseo. Tapi kau harus menceritakannya padaku, semuanya, tanpa melupakan satu detail pun! Arrachi?”
“Ne... ne... ah, Sera-ya... perkenalkan, ini Shim Chaerin, tunanganku.”
“Shim Chaerin imnida. Banggabseumnida.” Dia menjulurkan tangannya
“Ne, Kim Sera imnida....” kataku menjabat tangannya.
“kau boleh memanggilku Eonni kalua kau mau.” Katanya sambil tersenyum bangga (?)
“Ah, ne Eonni...” aku berusaha mengatur emosiku yang sejak tadi-sejak kedatangannya-menjadi tak menentu.
“Sera-ya... kau bisa pulang sendiri kan?” Hyukjae-oppa menyadarkanku dari pikiranku yang sedang melayang kesana-kemari.
“Sera-ya...”
“Ne? Ah, ne oppa...” balasku lemas.
“Baiklah... kau akan langsung pulang ke rumah kan?”
“ne...”
“Tolong sampaikan pada Eomma, aku akan mengajak Chaerin pulang saat makan malam nanti.” Hyukjae-oppa terlihat bersemangat.
“kalu begitu aku pulang dulu oppa...” aku berusaha tersenyum, mungkin senyumku ini akan terlihat aneh
“Hati-hati Sera-ya...” kini Chaerin-eonni yang berusaha ramah.
Aku meninggalkan kampus dengan langkah tergesa-gesa... rasanya mataku mulai memanas namun aku berusaha untuk tidak menangis. Tunangan? Dan aku dongsaengnya? Seenaknya saja dia mengatakan kalau aku dongsaengnya... padahal aku tak mengharapkan ini terjadi. Bodohnya aku tak menyadari keberadaan cincin di jari manis Hyukjae-oppa... pertahanannku ambruk... mataku mulai mengalirkan tetesan-tetesan bening yang mulai menganak sungai di pipiku.

Sesampainya di rumah Lee Ajhuma mengajakku makan siang bersama. Aku duduk di sebelah Donghae-oppa. Aku membuka percakapan dengan menyampaikan pesan Hyukjae-oppa...
“Ajhuma, ani, maksudku Eommonim, tadi Hyukja-oppa bilang kalau dia akan mengajak Chaerin-eonni makan malam disini.”
“Jeongmal...? ah... anak ini tak pernah mengkonfirmasikan segalanya langsung padaku. Kau sudah tahu hubungan mereka Sera-ya?”
“Ne.... tadi Oppa sudah menjelaskannya padaku.”
“Ah.. Hyukjae memang pandai memilih pasangan. Aku sangat suka pada Chaerin, menurutmu bagaimana Sera-ya?”
Menyukainya.... aku berusaha mengontrol emosiku tapi bisa kurasakan air mata mulai menggenng di pelupuk mataku dan membuat pandanganku mengbur.
“Ah... dia cantik Eom-monim...” suaraku tercekat.
Donghae-oppa sepertinya menyadari perubahan air mukaku.
“Ah... tapi kau tak kalah cantik Sera-ya....” sepertinya Donghae-oppa berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“tentu saja.... Sera itu sangat mirip ibunya. Kau ingat Hae-ya...?”
“ne... Eomma... mata Sera sama persis dengan mata Kim Ajhuma.” Donghae-oppa menatapku dalam. Namun aku tak menggubrisnya.
“Setelah ini kalian antar Eomma belanja ya? Eomma ingin memasak makanan favorit Chaerin.”
“Ne... Eom-ma...” jawabku terbata-bata. Aku menyebutnya Eomma. Hal itu membuat Lee Ajhuma dan Donghae mendongkakkan kepalanya ke arahku.
“Bolehkah aku memanggilmu seperti itu?” tanyaku sambil tersenyum ragu.
“haha... tentu saja boleh!” Lee Ajhuma dan Donghae mulai menertawakanku, dan Aku tahu mukaku sudah semerah tomat sekarang.

Lee Ajhuma sedang memilah-milah sayuran dan meninggalkan aku dan Donghae dengan troley yang terisi setengahnya. Mungkin Donghae-oppa menyadari kalau aku terlihat lebih murung.
“Sera-ya... gwenchana?” tanya Donghae-oppa membuyarkan lamunanku.
“Gwenchana oppa...” suaraku mungkin lebih terdengar seperti berbisik ketimbang bicara.
“sudahlah... kau tak usah berbohong padaku...”
“kalu kau tahu kenapa kau masih bertanya?” aku cemberut.
“Akuhanya ingin memastikan, apakah kau masih suka berbohong padaku.” Donghae-oppa mengacak poniku pelan.
Aku berusaha tersnyum.
“Kaja! Aku sudah selesai.” Lee ajhuma menghampiri kami dengan beberapa sayuran dan sekotak daging.

Aku berjalan berdampingan dengan donghae-oppa sedangkan Lee Ajhuma berjalan di depan kami. Donghae-oppa memasukkan belanjaan ke bagasi mobil.
“OMO! Aku lupa sesuatu. Kalian tunggu disini. Eomma akan segera kembali.” Lee Ajhuma berlari masuk ke dalam supermarket meninggalkan kami berdua lagi.
Aku berjalan-jalan mengitari mobil dan.....
Aku melihat sebuah mobil yang tak asing di mataku. Mobil Hyukjae-oppa. Dan di dalamnya dua insan tengah mencumbu asmara. Mereka tengah berciuman. Mataku mulai memanas. Air mataku mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi. Kurasakan seseorang membalikan badanku sehingga dua insan itu menghilang dari pandanganku. Donghae-oppa. Dia membenamkan kepalaku diatas dadanya yang bidang.
“pemandangan jelek begitu tak usah dilihat Sera-ya...” Donghae-oppa berusaha menghiburku.
“aku sudah melihatnya oppa... aku melihatnya....” aku mulai terisak.
“sudahlah... anggap saja itu hanya imajinasimu.” Donghae-oppa terus menghiburku. Tangisanku tak bisa berhenti. Hal ini membuat Donghae-oppa semakin erat memelukku. Sampai Lee Ajhuma datang.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Lee Ajhuma kaget.
“Kaki Sera terlindas roda troley eomma... makanya dia menangis.” Jawab Donghae-oppa asal.
“Sera-ya... gwenchana?” tanya Lee Ajhuma khawatir.
“Gwenchana eomma...” aku terpaksa menyunggingkan senyum agar Lee Ajhuma tidak megoceh.
Perjalanan menuju rumah hanya diisi deheman tanpa ada yang bicara sedikitpun.
*****
Author’s POV
Acara makan malam bersama Chaerin akan segera dimulai karena sang bintang utama: Chaerin sudah datang. Kedatangan Chaerin disambut ramah oleh keluarga Lee. Tapi tidak dengan peranakan Kim yang menyelip diantara mereka. Sera masih berusaha tersenyum meskipun ribuan benda tajam serasa menghujam jantungnya. Apalagi ketika melihat Lee Ajhuma sangat senang dengan kedatangan Chaerin.
“Omo... Chaerin-a... kau terlihat makin cantik saja!” Ahjuma menyambut Chaerin dengan pelukannya.
“ah... Eomoni, kau bisa saja.” Jawab chaerin dengan wajah bersemu.
“Kajja Chaerin-a, Eomma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.” Ajak Ahjuma.
Semua orang berlalu menuju ruang makan tanpa menyadari perubahan ekspresi Sera. Hanya saja Donghae. Mungkin Donghae menyadari perubahan air muka Sera.
Donghae menarik tangan Sera yang sedang berjalan hingga Sera memutar kepalanya.
“Saera-ya... gwenchana?” tanya Donghae khawatir.
Taka ada jawaban dari Sera hanya senyuman yang terkesan dipaksakan tersungging di bibirnya.
Donghae kemudian menggenggam tangan Saera dan menariknya menuju ruang makan. Donghae membuat Saera duduk disampingnya dan berhadapan dengan Chaerin dan Hyukjae. Sedangkan Ahjuma tak henti-hentinya memuji Chaerin.
“Eomma... aku sudah lapar lebih baik kita mulai makan.” Suara Donghae menyadarkan Eommanya yang seperti tak menyadari ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan Chaerin.
Sera menoleh kearah Donghae dan tersenyum. Senyumannya sepetri berkata terimakasih pada Donghae.
“Aigoo... maafkan eomma Hae-ya... aku sudah sangat rindu pada Chaerin. Jadi aku ingin bicara banyak dengannya.”
Acara makan malam keluarga ini pun brlangsung dengan tenang. Sesekali Lee Ajusshi berbicara pada Hyukjae atau Donghae sedangkan Eomma hanya berbicara pada Chaerin dan lupa bahwa di ruangan iti ada Sera. Jadilah Sera makan dengan kepala tertunduk dan sesekali menatap nanar pada pasangan didepannya yang sesekali bercanda.
“Eomma, Appa, aku ingin segera menikah dengan Chaerin.”
*****
Donghae’s POV
“Eomma, Appa, aku ingin segera menikah dengan Chaerin.”  Hyukjae-hyung membuka pembicaraan setelah makan malam selesai.
Aku langsung menoleh pada Sera. Kulihat wajahnya. Sepertinya dia shock. Kugenggam tangannya berharap bisa memberi kekuatan padanya. Sera menoleh padaku dengan tatapan yang mengkhawatirkan.
“Eomma, aku dan Sera ke atas dulu, tadi siang aku janji pada Sera untuk menunjukkan koleksi fotoku.” Kataku berbohong.
Aku tak mau air matanya tumpah disini.
“Kajja Sera-ya..” ajakku sambil menarik tangannya.
Dia tak mengiyakan ataupun menolak. Dia hanya mengikuti tangannya yang kutarik.
Sesampainya di lantai dua Sera hanya mematung.
“benarkah semua ini?” akhirnya kata-kata itu yang meluncur dari bibirnya.
Dia mengangkat tangannya dan mulai menampar-nampar pipinya.
“Sera-ya.. apa yang kau lakukan?” aku berusaha menahan tangannya.
“lepaskan tanganku-oppa! Ini tidaik sakit! Ini pasti mimpi!!!” Sera berusaha melepaskan genggaman tanganku. Tapi aku berusaha agar tangannya tak lepas.
Akhirnya aku memeluknya dengan erat agar ia tak meneruskan tingkah gilanya. Tubuhnya yang ramping memudahkanku untuk menguncinya dalam pelukanku.
“lepaskan aku oppa... lepaskan aku...” dia meronta-ronta sampai akhirnya tubuhnya melemas dan dia mulai menangis dalam pelukanku.
“Tenang Sera-ya... aku masih disini untukmu.” Aku berusaha menenangkannya.
Kubawa tubuhnya kekamarnya. Aku takut tangisannya terdengar sampai ke lantai dasar.
Kududukan dia di pinggir ranjangnya. Dia masih menangis. Tangisannya membuat telingaku sakit. Semakin lama suara tangisannya semakin melemah. Kulonggarkan pelukanku dan kulihat Sera sudah tertidur tapi nafasnya masih tak beraturan. Kubaringkan tubuhnya dan kuselimuti tubuhnya sampai menutupi lehernya. Setelah kupastikan dia tertidur pulas aku beranjak menuju pintu untuk keluar. Namun aku mendengar suara seperti bisikan
“oppa.... oppa... kajima oppa!”
Kubalukan tubuhku dan kembali mendekatinya. Ternyata dia mengigau. Mungkin hari ini terlalu melelahkan untuknya.
Kusingkirkan peluh yang membasahi keningnya dan kukecup keningnya.
“Chalja Kim Sera.” Kataku sebelum menutup pintu kamar.
*****
Sera’s POV
Kubuka mataku seiring dengan suara alarm dari handphone-ku. Badanku terasa pegal dan kepalaku terasa pusing. Kulangkahkan kakiku kekamar mandi. Kulihat pantulan diriku di cermin. Mataku terlihat sembab.
Badanku terasa lebih segar setelah mandi. Tapi tidak dengan hatiku. Aku tak mau terlambat jadi aku putuskan untuk keluar walaupun moodku masih tak cukup baik.
Kulihat Hyukjae-oppa tidur di sofa di ruang keluarga di lantai dua. Kuberanikan diri untuk membangunkannya.
“oppa.... oppa... ireona...” kutepuk pipinya dan kulihat dia mulai membuka matanya.
“ah... Sera-ya... kau sudah bangun?”
“ne... oppa... kenapa kau tidur diluar?”
“mmhh... Chaerin tidur dikamarku jadi aku tidur diluar. Semalam eomma menyuruhnya menginap.”
DEG
Sedekat itukah hubungan Eomma dengan Chaerin-eonni?
“aah... a-ku duluan Oppa...” suaraku terbata-bata.
Aku bergegas mengambil tasku dan pergi keluar rumah.
Aku berjalan diatas trotoar tanpa peduli kemana kakiku melangkah. Namun langkahku terhenti saat sesosok namja berdiri dihadapanku. Aku mendongkakkan kepala dan kulihat sorot mata teduhnya. Mata Donghae-oppa.
“Oppa....”
“kau mau kemana putri kecil?” Kenapa dia memanggilku seperti itu?
“aku mau ke... kampus.” Jawabku berbohong.
“ahni.... aku tau kau melamun sejak tadi. Kalau kau mau ke kampus harusnya kau berjalan kesana.” Donghae-oppa menunjukkan arah yang berlawanan dengan arah aku berjalan.
Aissh... kenapa kau bodoh Kim Sera.
“ah.. ne...” akhirnya kuputuskan untuk berbalik arah. Tapi sebuah tangan menarik bahuku.
“lebih baik kau bolos hari ini. Karena kau tak akan bisa fokus dengan mood seperti ini.” Apa maksudnya?*****
Donghae’s POV
aku tak bisa tidur semalaman karena memikirkan nasib gadis itu. bagaimana bisa Hyukjae-hyung melupakan janjinya pada Sera. aku putuskan untuk melihat kondisinya. saat aku keluar kamar kulihat dia tengah berbicara dengan Hyukjaehyung di ruang keluarga.
“mmhh... Chaerin tidur dikamarku jadi aku tidur diluar. Semalam eomma menyuruhnya menginap.” hyukjae-hyung menjelaskan pada Sera.
aisssh... hyung, bisakah kau tak menyakiti hatinya sekali saja. kulihat perubahan ekspresinya. dia kembali ke kamarnya dan mengambil tasnya kemudian berlari menuruni tangga. aku ikuti langkahnya yang semakin cepat.
“Sera-ya...” panggilku. Tapi dia tak mendengarnya.
dia berlari keluar dari rumah. aku terus mengikutinya. ini sudah terlalu jauh. kemana dia akan pergi? akhirnya aku mendahuluinya dan kemudian berdiri di hadapannya. langkahnya terhenti ketika melihat ujung sepatuku.
“Oppa....” panggilnya
“kau mau kemana putri kecil?” aku mengikuti gaya Hyukjae-hyung jika sedang merayunya dulu.
“aku mau ke... kampus.” Jawabnya berbohong.
“ahni.... aku tau kau melamun sejak tadi. Kalau kau mau ke kampus harusnya kau berjalan kesana.” aku menunjukkan arah yang berlawanan dengan arahnya berjalan.
dia menundukkan kepalanya
“ah.. ne...” dia berbalik arah. Tapi segera kutahan dengan menarik bahunya.
“lebih baik kau bolos hari ini. Karena kau tak akan bisa fokus dengan mood seperti ini.”
“ne?” tanyanya kaget.
“Kaja... kita ambil mobilku dulu.” kataku sambil menarik tangannya.
“Oppa... aku menunggu disini saja.”
“ahni.. aku takut kau kabur.” aku menarik tangannya menuju rumah.
*****
“kenapa kau membawaku kesini-oppa?” tanyanya saat kami tiba di Everland.
“hari ini aku akan membuatmu tersenyum sampai gila.”
dia terkekeh mendengar ucapanku. akhirnya dia tersenyum, itu membuat hatiku sedikit lega.
kami menaiki semua wahana disini. dan kulihat dia bisa tersenyum, berteriak dan bahkan tertawa.
selama mengitari tempat ini aku tak mau melepaskan genggaman tanganku dari tangannya. aku takut dia pergi dariku. aku takut dia nekat kabur.
“oppa...” suaranya parau, ekspresinya kembali seperti tadi malam.
“ne?” tanyaku.
“hyukjae-oppa...” suaranya semakin parau.
“sera-ya kau kenapa?” tanyaku saat aku lihat genangan air mata di pelupuk matanya. aku mengikuti arah matanya menatap. kulihat Hyukjae-hyung dan Chaerin sedang bermesraan.
aiiisshh... Lee Hyukjae, kenapa kau tak pernah bisa berhenti menyakiti hatinya.
Sera melepaskan tangannya dari genggaman tanganku. dia berlari menuju pintu keluar.
“Sera-ya...” teriakku. namun dia tak menggubris panggilanku. dia terus berlari. dan sialnya langkahku tertahan saat para bedut melintas. aku kehilangan dia. Kim Sera. sebesar itukah rasa cintamu pada hyungku?
*****
Sera’s POV
aku terus berlari. tak kugubris teriakan Donghae-oppa. aku memtuskan untuk kembali ke rumah.
aku sudah memegang sebuah cutter ditanganku. ternyata rasa sakit hatiku mengalahkan akal sehatku. pertama Eomma, kemudian Appa... orang-orang yang kucintai meninggalkanku begitu saja. dan sekarang harapan terakhirku, Hyukjae-oppa juga meninggalkanku. jadi untuk apa aku hidp di dunia ini?
kudengar suara mobil terparkir di garasi. mungkin Donghae-oppa. buru-buru aku sayat pergelangan tanganku. darah segar terus mengucur seanyak air mataku yang terus meleleh. aku tak sanggup lagi berdiri. pandanganku semakin mengabur.
*****Donghae’s POV
“Sera-ya...” aku berlari menuju lantai dua setelah memarkirkan mobilku.
aku berlari menuju kamarnya kuketuk pintunya. tak ada jawaban. sudah 15 menit. masih tak ada suara dari dalam.
“Kim Sera... cepat buka pintunya. atau kudobrak pintu kamarmu.” tetap tak ada jawaban.
“baiklah jika kau memaksa. hana.... dul.... set...” kudobrak pintu kamarnya.
kulihat tubuhnya yang mungil tergeletak di lantai dengan tangan bersimbah darah. dan sebuah cutter ditangannya.
“KIM SERA!”
aku ikat pergelangan tangannya dengan saputanganku.
aku tak menyangka dia senekat ini. aku segera menggendong tubuhnya menuju mobil. saat di tangga Eomma melihatku kemudian menghampiriku.
“OMO! Donghae-ya dia kenapa?” Eomma terlihat shock melihat kondisi Sera.
“Molla... eomma... kau ikut aku ke rumah sakit!”
“Arraseo....” eomma berlari dibelakangku.
aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi. aku hanya memikirkan keselamatan anak ini. sesekali kulihat keadaannya yang duduk dengan Eomma di kursi belakang lewat kaca spion.
“Kim Sera... bertahanlah” gumamku pelan.
*****
Author’s POV
sudah tiga hari Sera terbaring dirumah sakit. namun dirinya tak kunjung sadar. dokter berkata bahwa stress yang dialaminya membuat dia malas untuk membuka matanya. sedangkan Donghae, namja itu selalu menunggunya untuk bangun. bahkan dia tak memperdulikan kondisinya sendiri.
Dream...
Sera’s POV
aku membuka mataku dan aku berada di sebuah ladang bunga matahari yang sangat indah.
“Sera-ya...” suara itu membuatku membalikan tubuhku.
“Eomma....” aku menghambur ke pelukkannya.
“Eomma apa kita sudah di surga?” tanyaku pada eomma. namun eomma menggelengkan kepala menjawab pertanyaanku.
“ahni... Sera-ya... aku kesini untuk membangunkanmu.”
aku mengerutkan dahiku saat mendengar jawaban Eomma.
“tapi aku tak mau bangun eomma. aku ingin disini saja. dunia itu terlalu menyakitkan. tak ada lagi alasan bagiku untuk kembali kesana.”
“sudah kuduga. Sera-ya... jangan pernah memandang sbelah mata. kenapa hanya memperdulikan perasaanmu tanpa memperdulikan perasaan orang disekitarmu? kau sangat egois Sera-ya... apa kau lupa kalau eomma mengajarimu untuk peduli pada semua orang?”
eomma mengusap puncak kepalaku. aku menundukkan kepalaku karena malu.
“kau tau, orang yang mencintaimu sedang menunggumu sekarang.” aku mendongkakkan kepala mendengar ucapan eomma.
“jinca? nugu? siapa orang yang mencintaiku itu eomma?” tanyaku bersemangat.
“kau akan segera tahu jika kau bangun. jadi cepatlah bangun sayang. jangan biarkan dia menunggu terlalu lama.” eomma tersenyum padaku. aku kemudian memeluknya erat. sangat erat karena aku tak mau kehilangannya.
end of  dream
Author’s POV
Sera mengerjapkan matanya, berusaha membukanya. bau obat-obatan memenuhi rongga pernapasannya. tangannya yang berada dalam genggaman Donghae bergerak membuat Donghae mendongkakkan kepalanya.
“Sera-ya... kau sudah sadar?” tanya Donghae bersemangat.
sera hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Syukurlah... aku akan memanggil dokter. tunggu sebentar Sera-ya.”
sebelum Donghae beranjak, Sera buru-buru menarik tangan Donghae.
“Oppa.... apa kau mencintaiku?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Sera.
“Ne?” Donghae berusaha membuat Sera mengulangi pertanyaannya.
“Apa kau mencintaiku?” tanya sera sekali lagi.
“Tentu saja Sera-ya. aku mencintaimu sampai kapan pun. aku kan pernah mengatakannya padamu.” Donghae menjawab pertanyaan Sera dengan yakin.
mata Sera terlihat berbinar.
“kalau begitu.... oppa, maukah kau mengajariku untuk mencintaimu?”
“ne?” Donghae tak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Oppa... kenapa kau selalu membuatku mengulangi pertanyaanku? ajari aku untuk mencintaimu jika kau benar-benar mencintaiku oppa...” Sera memperjelas ucapannya.
Donghae memeluk tubuk Sera yang berusaha duduk.
“Pasti... aku berjanji akan membuatmu cinta padaku Kim Sera. Saranghae....” bisik Donghae di telinga Sera.
Air mata bahagia membanjiri pipi mereka.
*****
Epilog
Donghae’s POV
hari ini Hyungku menikah dengan Chaerin. aku dan Sera duduk di jajaran paling depan. kali ini bibir Sera tersungging melihat Hyung dan Chaerin bersanding di depan altar. saat Hyukjae Hyung memasangkan cincin di jari manis Chaerin aku meliri ke arah Sera dan kemudian melihat cincin yang telah melingkar di jari kami. Sera tersenyum kearahku dan mendekatkan bibirnya ke arah telingaku.
“Oppa... kapan kita menyusul mereka?”
pertanyaannya membuat mataku membulat.
“Segera” jawabku berbisik ke arahnya.
Kim Sera... aku sudah menepati janjiku padamu. jadi jangan pernah pergi dari sisiku.
*****
mian kalo ending-nya gaje. pengen cepet-cepet selesai abisnya... :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar